Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2

October 22, 2009 by wahyutri

Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2 sudah diumumkan oleh presiden terpilih Susilo Bambang Yudoyono di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10/2009) pukul 22.00. Pro dan kontra atas susunan kabinet tersebut merupakan hal yang biasa, seperti halnya kebijakan pemerintah yang baru dirumuskan saja sudah sempat bikin pro dan kontra.

Sebagai rakyat kecil, harapan kami adalah dengan susunan kabinet yang baru tersebut diharapkan kinerja dari masing-masing post di kementrian menjadi lebih baik, lebih efektif dan lebih maksimal dan terbentuk kolaborasi kerja antara satu post dengan post yang lainnya melalui menko-nya.

Berikut susunan KIB II

1. Menko Politik, Hukum, dan Keamanan: Marsekal TNI Purn Djoko Suyanto
2. Menko Perekonomian: Hatta Rajasa
3. Menko Kesra: Agung Laksono
4. Menteri Sekretaris Negara: Sudi Silalahi
5. Menteri Dalam Negeri: Gamawan Fauzi
6. Menteri Luar Negeri: Marty Natalegawa
7. Menteri Pertahanan: Purnomo Yusgiantoro
8. Menteri Hukum dan HAM: Patrialis Akbar
9. Menteri Keuangan: Sri Mulyani
10. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Darwin Zahedy Saleh
11. Menteri Perindustrian: MS Hidayat
12. Menteri Perdagangan: Mari Elka Pangestu
13. Menteri Pertanian: Suswono
14. Menteri Kehutanan: Zulkifli Hasan
15. Menteri Perhubungan: Freddy Numberi
16. Menteri Kelautan dan Perikanan: Fadel Muhammad
17. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi: Muhaimin Iskandar
18. Menteri Pekerjaan Umum: Djoko Kirmanto
19. Menteri Kesehatan: Endang Rahayu Sedyaningsih
20. Menteri Pendidikan Nasional: M Nuh
21. Menteri Sosial: Salim Assegaf Aljufrie
22. Menteri Agama: Suryadharma Ali
23. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata: Jero Wacik
24. Menteri Komunikasi dan Informatika: Tifatul Sembiring
25. Menneg Riset dan Teknologi: Suharna Surapranata
26. Menteri Negara Urusan Koperasi dan UKM: Syarifudin Hasan
27. Menneg Lingkungan Hidup: Gusti Moh Hatta
28. Menneg Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Agum Gumelar
29. Menneg Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: EE Mangindaan
29. Menneg Pembangunan Daerah Tertinggal: Helmy Faisal Zaini
31. Menneg PPN/Kepala Bappenas: Armida Alisjahbana
32. Menneg BUMN: Mustafa Abubakar
33. Menneg Perumahan Rakyat: Suharso Manoarfa
34. Menneg Pemuda dan Olahraga: Andi Mallarangeng

Pejabat Negara:
1. Ketua Unit Kerja Presiden Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan: Kuntoro Mangkusubroto
2. Kepala BIN (Badan Intelijen Negara): Jenderal Pol Purn Sutanto
3. Kepala BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal): Gita Wirjawan

Gempa di Sumbar

October 7, 2009 by wahyutri

Gempa di Sumatra Barat terjadi pada tanggal 30 September 2009, jam 17:16 WIB. Saya inget waktu itu, aku sedang berada di Swiss-bellhotel, Manokwari, Papua Barat. Ketika menyalakan televisi 2 jam lebih cepat dari jam 17:16, saya melihat liputan berita yang disiarkan oleh TVOne. Waktu itu saya tidak mengira kalau akibat gempa yang ditimbulkan sungguh sangat dahsyat dan menelan banyak korban jiwa.

Ketika kembali ke Jakarta, saya cukup tersentak ketika mengetahui begitu banyak korban jiwa. Saya hanya bisa berdo’a mudah-mudahan mereka yang meninggal akibat bencana diampuni segala dosa-dosanya dan bagi keluarga yang ditinggalkan selalu diberikan ketabahan.

Hampir semua stasion televisi menampilkan dan melaporkan baik secara live atau siaran tunda tentang akibat pasca gempa di Sumatera Barat. Bahkan dengan diiringi musik instrumet-kitaro atau lantunan lagu syair Ebiet G Ade yang berjudul “Untuk kita renungkan”. Aku suka syarinya, kira-kira begini:

Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih
Suci lahir dan di dalam batin
Tegaklah ke dalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat 2x

Anugerah dan bencana adalah kehendakNya
Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil agar kita sadar
Adalah Dia di atas segalanya 2x

Anak menjerit-jerit, asap panas membakar
Lahar dan badai menyapu bersih
Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat
Bahwa kita mesti banyak berbenah

Memang, bila kita kaji lebih jauh
Dalam kekalutan, masih banyak tangan
Yang tega berbuat nista… oh
Tuhan pasti telah memperhitungkan
Amal dan dosa yang telah kita perbuat
Kemanakah lagi kita kan sembunyi
Hanya kepadaNya kita kembali
Tak ada yang bakal bisa menjawab
Mari, hanya tunduk sujud padaNya

Kita mesti berjuang memerangi diri
Bercermin dan banyaklah bercermin
Tuhan ada di sini di dalam jiwa ini
Berusahalah agar Dia tersenyum… oh
Berubahlah agar Dia tersenyum

Atau lirik lagu “Berita Kepada Kawan” pada bagian :

Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada “Rumput Yang Bergoyang” –> Ahli dzikir mungkin maksudnya.

Mudah-mudahan dengan peristiwa ini kita tersadar akan amanah yang diberikan Allah pada Manusia sebagai Khalifah. Mudah-mudahan kita menjadi lebih bertakqwa dengan sebenar-benarnya taqwa. Amin.

@ Manokwari

October 7, 2009 by wahyutri

@ Manokwari

Pada tanggal 25 -30 September, saya masih berada di Manokwari. Selama 1 minggu kami memberikan materi training untuk para perwakilan LSM dari beberapa kabupaten di Papua Barat. Training yang kami berikan berhubungan dengan project yang telah kami kerjakan. Project tersebut berupa website yang sudah di publish di Internet (http://www.vogelkoppapua.org). Melalui website tersebut diharapkan ada kolaborasi antar LSM yang tersebar di wilayah Papua Barat.

Saya sangat senang ketika memperhatikan animo peserta training yang begitu semangat dan antusias. Dalam setiap diskusi yang kami selipkan selama training berlangsung, meraka sangat aktif memberikan tanggapan atau masukan untuk penambahan modul atau perbaikan modul dalam website yang kami bangun. Panitia Training juga merasa cukup gembira dan puas melihat kondisi saat itu.

Peserta Training yang sangat beragam membuat kami mesti pandai menyelami dan mengikuti pola pikir mereka. Peserta training yang terlibat antara lain dari LSM yang berlatar belakang bantuan hukum, sosial kemasyarakatan, Akademik (perwakilan dari Universitas Papua), kesehatan, pertanian dan konservasi alam. Saya cukup bangga karena banyak dari teman-teman di Papua yang masih peduli dengan hal-hal tersebut di atas.

Pada hari terakhir dilaksanakan training, kami sempat diskusi dan tukar menukar informasi. Mereka begitu akrab dan santun. Pada hari berikutnya setelah membantu teman-teman di Vogelkoppapua untuk memasang jaringan di kantor sekretariat mereka, kami di ajak berkeliling Manokwari. Dari Pelabuhan, kemudian ke Pantai Utara (pantai yang berbatasan dengan lautan pasifik), kemudian kembali lagi ke Sekretariat yang letaknya di depan kampus UNIPA (Universitas Papua). Pada malam harinya kami diajak makan bersama di Cafe Laut. Pengalaman ini nggak bakal terlupakan.

Thanks For All.

Disable/Enable USB Storage

April 13, 2009 by wahyutri

Memanage komputer dalam satu jaringan tertentu gampang-gampang susah. Salah satunya bagaimana caranya meminimalis penyebaran virus melalui media usb storage (external hardisk, flash disks, storage lainnya).

Untuk mendisable USB port bisa langsung dilakukan dari sisi BIOS, akan tetapi terkadang kendalanya adalah jiks USB port di disable maka, device lain yang bukan merupakan USB storage, seperti USB Printer atau scanner juga akan di disable, sehingga tidak dapat digunakan.

Untuk itulah kita hanya perlu mendisable USB storage saja. Untuk windows 2000/XP caranya mudah sekali:

buka registry (klik start –> run –> ketik regedit) dan arahkan ke

HKEY_LOCAL_MACHINE\SYSTEM\CurrentControlSet\Services\usbstor

Ubah value keyname Start dengan type Reg_DWORD menjadi 4 (sebelumnya 3). Maka secara otomatis usb storage di komputer tersebut akan di disable.

Untuk pc yang cukup banyak mungkin kerjaan ini cukup merepotkan. Anda bisa download scritp yang saya bikin di link ini:

http://www.4shared.com/dir/14490750/562af6bb/script_disableenable_usb_storage.html

Gaji Papa Berapa?

March 4, 2008 by wahyutri

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, “Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?”

“Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?”

“Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Sarah singkat.

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.

Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?”

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. “Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur” perintah Andrew

Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,

Sarah kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?”
“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini ? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah”.

“Tapi Papa…”

Kesabaran Andrew pun habis. “Papa bilang tidur !” hardiknya mengejutkan Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata “Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ?

Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp. 5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih” jawab Andrew

“Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini”.

“lya, iya, tapi buat apa ?” tanya Andrew lembut.

“Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. 15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp.5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa” kata Sarah polos.

Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.

Kopda milis Purbalingga di soto Eling2

February 27, 2008 by wahyutri

Kopda milis Purbalingga di sroto Eling-Eling, Casablanca, pada Hari sabtu tanggal 9 Februari 2007.

Pokoknya seru deh

Saringan Tiga Kali

February 27, 2008 by wahyutri

Di jaman Yunani kuno, Socrates adalah seorang terpelajar dan intelektual yang terkenal reputasinya karena pengetahuan dan kebijaksanannyayang tinggi. Suatu hari seorang pria berjumpa dengan Socrates dan berkata, “Tahukah anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman anda?”

“Tunggu sebentar,” jawab Socrates. “Sebelum memberitahukan saya sesuatu, saya ingin Anda melewati sebuah ujian kecil.

Ujian tersebut dinamakan Ujian Saringan Tiga Kali.”

“Saringan tiga kali?” tanya pria tersebut. “Betul,” lanjut Socrates.

“Sebelum anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, mungkin merupakan ide yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan
anda katakan. Itulah kenapa saya sebut sebagai Ujian Saringan Tiga Kali.

Saringan yang pertama adalah :

KEBENARAN.

Sudah pastikah anda bahwa apa yang anda akan katakan kepada saya adalah
benar?” “Tidak,” kata pria tersebut,”sesungguh nya saya baru saja
mendengarnya dan ingin memberitahukannya kepada anda”. “Baiklah,” kata
Socrates. ” Jadi anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak.”

Sekarang mari kita coba saringan kedua yaitu :

KEBAIKAN

Apakah yang akan anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu
yang baik?” “Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk”. “Jadi,” lanjut
Socrates, “anda ingin mengatakan kepada saya

sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi anda tidak yakin kalau itu benar.

Anda mungkin masih bisa lulus ujian selanjutnya, yaitu:

KEGUNAAN

Apakah apa yang anda ingin beritahukan kepada saya tentang teman saya
tersebut akan berguna buat saya?” “Tidak, sungguh tidak,” jawab pria

tersebut. “Kalau begitu,” simpul Socrates,” jika apa yang anda ingin
beritahukan kepada saya. tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak berguna
untuk saya, kenapa ingin menceritakan kepada saya ?”

Sebuah panah yang telah melesat dari busurnya dan membunuh jiwa yang tak
bersalah, dan kata-kata yang telah diucapkan yang menyakiti hati seseorang,
keduanya tidak pernah bisa ditarik kembali.
Jadi sebelum berbicara, gunakanlah Saringan Tiga Kali.

Putri ketiga Kami

February 27, 2008 by wahyutri

Pagi itu Hari Rabu, tanggal 20 – 02 – 2008, nggak seperti biasanya aku dibangunkan pukul 3.00 dini hari. Yah.. bangun yah, sudah mulai mules, “Kata Istriku tercinta. Aku segera bangun, dan memperhatikan istriku yang saat itu terlihat sedang mules perutnya. “Sudah berama lama sekali mulesnya?”, tanyaku. “Masih lama sih, 1 jam sekali”, kata Istriku. “Masih lama berarti, “Kataku.

Si kecil, Regita Bilqis, yang kebetulan badannya juga sedang panas tiba-tiba terbangun dan menangis. “Ngopol yah ..”, Kata Regita sambil menangis. Nggak papa Sayang, sini celananya dibuka yah, “Kataku. Setelah cebok dan ganti celana, si Kecil yang kebetulan suhu bandannya cukup panas minta di gendong. Yuk, kita ke ruang tamu saja, nanti kalo kita ngobrol disini si sulung, Nabila Tasya, malah terbangun juga “ajakku ke istriku. Sambil menggendong si kecil, Regita, aku keluar ke ruang tamu. Ayah.. barnie, “Rengek Regita mita disetelkan CD barnie yang baru aku beli sore tadi. “Iyah, tapi ade sembuh yah”, Kataku sembil menyalakan komputer, karena sudah sebulan DVD player kami rusak dan belum sempat diperbaiki, sehingga setiap nyetel CD atau DVD menggunakan komputer.

Regita nonton Barnie sambil tiduran, kepalanya aku elus2 dengan penuh kasih sayang. Perlahan-lahan Regita mulai tertidur kembali. “Sudah berama lama sekali?”, tanyaku ke istriku. Sudah sekitar 45 menit sekali mulesnya. Pagi itu sekitar pukul 5.00 pagi mulai terdengar azan shubuh. Aku segera mengambil air wudhlu dan berpamitan ke istriku. “nda, aku ke masjid dulu yah. Tolong jagain De Gita! “Pintaku. Iya Yah, “sahut istriku.

Sepulangku dari mesjid aku lihat Regita masih tidur, segera aku matikan komputerku. Aku mendapat informasi dari istriku kalau mertuaku akan datang. Mungkin mereka ngerti, bahwa nanti ketika saat lahiran di rumah perlu ada yang nungguin anak-anak kami yang masih kecil-kecil.

Hari itu juga aku memutuskan untuk tidak berangkat kerja. Segera kukirim sms ke temanku untuk disampaikan ke atasanku bahwa hari itu aku nggak bisa masuk kerja karena istri mau melahirkan.

Sekitar jam 9 pagi mertuaku dateng bersama adik iparku. Sekitar jam 12 siang saat mules istriku sudah lebih sering, 5 menit sekali, aku putuskan untuk datang ke bidan terdekat yang kebetulan ada di rumah. Setelah diperiksa ternyata baru pembukaan dua. “Masih lama bu, coba nanti kesini lagi sore sekitar jam 5, “kata bidan yang memeriksa Istriku. Setelah pemeriksaan selesai, aku ajak istriku pulang ke rumah. Di Rumah sudah mulai ramai, karena kebetulan kakak iparku juga datang (kebetulan kami tetanggaan).

Sekitar jam 5 sore, aku bawa lagi istriku ke bidan. Mulesnya sudah lebih cepat periodenya, namun belum ada tanda-tanda ketuban pecah. Akhirnya bidan memutuskan untuk memberi perangsang melalui suntikan. Betul juga, sekitar pukul 17.10 istriku sudah mulai berasa, akhirnya istriku segera di rebahkan di tempat persalinan. Bidan mengizinkanku untuk menemani proses kelahiran anakku yang ketiga.

Pembantu bidan, yang membantu proses kelahiran, juga sudah datang. Benar-benar, kali ini untuk yang kedua kalinya aku menyaksikan proses kelahiran anakku (anakku yang kedua tidak sempat tertunggui). Aku menyaksikan pengorbanan seorang wanita ketika melahirkan seorang anak adam dari rahim-nya. Perjuangannya, Subhanallah, luar biasa. Istriku memegang erat tanganku ketika melahirkan anakku yang ketiga. Tanpa sadar aku ikut “ngeden” :) .

Sekitar pukul 17.17, lahirlah anakku yang ketiga secara normal. Alhamdulillah semuanya selamat dan sehat. Aku elus2 kepala istriku sambil tersenyum, dan diapun tersenyum. Aku cium kening istriku yang terlihat letih sekali. “Yang, Anak kita sudah tiga” , kataku sambil tersenyum. “Iyah” , Jawabnya sambil tersenyum manis.

Setelah bayi dibersihkan segera aku gendong, kemudian aku lafazkan azan di telinga kanannya dan qomat telinga kirinya. Aku periksa satu-satu, alhamdulillah semuanya baik-baik. Alhamdulillah Ya Allah…!! Semoga kami diberi kekuatan untuk mebesarkan, mendidik dan memenuhi kewajiban kami sebagai orang tua. Amin.

Joyoboyo

February 13, 2008 by wahyutri

Pada hari Senin Legi tanggal 10 Zulkaidah tahun Jawa 1728 atau tanggal 15
Maret 1802 Masehi kurang lebih jam 12.00 siang lahirlah seorang bayi
dirumah kakek yang bernama R. Ng. Yosodipuro I, seorang Pujangga Keraton
yang terkenal dijamannya. Bayi yang baru lahir itu diberi nama Bagus
Burham. Sejak umur 2 tahun sampai 12 tahun Bagus Burham ikut
kakeknya.Ayahnya bernama R. Tumenggung Sastronegoro yang mengharapkan
anaknya dikelak kemudian hari menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan
negaranya. Maka oleh sang ayah, Bagus Burham dikirim ketempat pendidikan
yang memungkinkan dapat mendidik anaknya lebih baik dari dirinya
sendiri.Waktu itu pondok Pesantren di kawasan Ponorogo yang dipimpin oleh
Kyai Imam Besari terkanal sampai dipusat Kerajaan Surakarta. Kesanalah
Bagus Burham dikirim untuk mendapatkan tambahan ilmu lahir batin serta
keagamaan. Pondok Tegalsari yang dipimpin Kyai Imam Besari ini mempunyai
murid yang banyak dan memiliki kepandaian yang pilih tanding.Bagus Burham berangkat ke Pesantren Tegalsari disertai embannya yang
bernama Ki Tanujoyo.
Ditempat yang baru itu Bagus Burham sangat malas. Ditambah lagi lebih suka
menjalankan maksiat dari pada mengaji. Berjudi adalah merupakan
pekerjaannya setiap hari. Juga pekerjaan maksiat yang lainnya. Adu ayam
termasuk kesukaan yang tidak perbah diluangkan. Dari pada mengaji
hari-harinya dihabiskan dimeja-meja judi dari satu desa ke desa lainnya.
Sehingga terkenallah Bagus Burham bukan sebagai santri yang soleh tetapi
sebagai penjudi ulung dikalangan orang-orang di daerah Ponorogo. Dasar
seorang anak Tumenggung, uang banyak dan biasanya dimanja oleh orang tua
atau kakeknya. Karena kegemarannya bermain judi, adu ayam dan
perbuatan-perbuatan maksiat yang lain Bagus Burham banyak berkenalan
dengan warok-warok Ponorogo yang satu kegemaran.
Perbuatan putra Tumenggung ini sangat merepotkan hari Kyai Imam Besari.
Diharapkan seorang putra priyayi keraton ini akan memberi suri teladan
bagi murid-murid (santri-santri) yang lein tetapi ternyata
sebaliknya.Seringkali Bagus Burham mendapat teguran dan marah dari Kyai
Besari. Namun hal itu tidak merubah sifatnya. Dia tetap penjudi, tetap
penyabung ayam, tetap gemar pada tindakan-tindakan yang menjurus ke
maksiat. Karena merasa bosan setiap hari mendapat dampratan dari gurunya
maka Bagus Burham perni meninggalkan pondok Tegalsari diikuti oleh Ki
Tanujoyo.
(Versi lain mengatakan bahwa kepergian Bagus Burham karena KyaiImam Besari
merasa jengkel akan ulah Bagus Burham. Kemudian pimpinan pondok Tegalsari
itu memanggil abdi kinasih Ki Tanujoyo dan menseyogyakan Bagus Burham
tidak usah belajar mengaji di pondok Tegalsari).
Meninggalkan pondok Tegalsari Bagus Burham tidak mau pulang ke Solo.
Dengan diiring oleh oleh abdinya yang bernama Ki Tanujoyo. Bagus Burham
bertualang sampai di Madiun. Ditempat itu uang sakunya habis. Ki Tanujoyo
kemudian berdagang barang loakan. Sedangkan Bagus Burham tetap pada
kegemarannya semula. Betapa bingungnya Raden Tumenggung Sastronegoro
tatkala mendapat laporan Kyai Imam Besari bahwa puteranya pergi dari
Tegalsari. Kemudian dipanggillah di Josono agar mencari Bagus Burham
sampai ketemu. Bila ketemu agar diajal kembali ke Tegalsari. Kyai Imam
Besari kembali dari Keraton Solo mendapat laporan dari penduduk Tegalsari
bahwa sekarang daerah Tegalsari tidak aman. Banyak pencuri serta tanaman
diserang hama. Kyai Imam Besari memohon petunjuak dari Tuhan. Mendapatkan
ilham bahwa keadaan daerahnya akan kembali aman damai apabila Bagus Burham
kembali ke Tegalsari lagi. Oleh karena itu Kyai Imam Besari segera
mengutus ki Kromoleyo agar supaya berangkat mencari kemana gerangan
perginya Bagus Burham. Bagi Ki Kromoleyo bukan pekerjaan yang sulit
mencari Bagus Burham. Sebab dia tahu kehidupun macam apa yang digemari
Bagus Burham. Tempat judi, tempat adu ayam. Itulah sasaran Ki Kromoleyo.
Pada penjudi dan pengadu ayam ditanyakan apakah kenal dengan pemuda yang
bernama Bagus Burham. Orangnya tampan. Jejak Bagus Burham akhirnya terbau
juga. Ki Kromoleyo dapat menemukan Bagus Burham dan mengajak kembali ke
Tegalsari. Namun Bagus Burham tidak mau. Karena bujukan Ki Josono utusan
orang tuanya yang kebetulan juga sudah menemukan tempat Bagus Burham maka
kembalilah Bagus Burham ke Tegalsari.
Kyai Imam Besari menghadapi Bagus Burham dengan cari lain. Sebab ternyata
sekembalinya dari petualangannya Bagus Burham bukan semakin rajin mengaji
tetapi semakin boglok dan bodoh. Tampaknya. Menghadapi murid yang demikian
Kyai yang sudah berpengalaman itu lalu mengambil jalan lain. Bagus Burham
tidak langsung tidak langsung diajar mengaji seperti santri-santri yang
lain. Dia bukan keturunang orang biasa tetapi masuk memiliki darah
satriya. Maka tidak mengherankan kalau dia juga memiliki/mewarisi
sifat-sifat leluhurnya. Gemar sekali kepada hal-hal yang memperlihatkan
kejantanan seperti adu ayam dan lain sebagainya.
Menurut serat “CANDRA KANTHA” buatan Raden Ngabehi Tjondropradoto antara
lain menyebutkan bahwa : Raden Patah berputera R. Tejo ( Pangeran
Pamekas). Pangeran Pamekas berputra Panembahan Tejowulan di Jogorogo.
Panembahan Tejowulan berputra Tumenggung Sujonoputro seorang pujangga
keraton Pajang. Kemudian Raden Tumenggung Sujonoputro berputra Tumenggung
Tirtowiguno. Sedangkan Tumenggung Tirtowiguno ini mempunyai putra R. Ng.
Yosodipuro I pujangga keraton Surakarta. Kemudian sang pujangga berputra
R. Ng. Yosodipuro II (Raden Tumenggung Sastronegoro) ayah dari Bagus
Burham. (Dari sumber lain menyebutkan bahwa R. Tumenggung Sastronegoro
bukan ayah Bagus Burham tetapi kakeknya. Ayahnya bernama Mas Ngebehi
Ronggowarsito Panewu Carik Kadipaten Anom). Dari silsilah tersebut
diketahui bahwa Bagus Burham masih ada keturunan darah raja. Darah
bangsawan yang biasanya sangat suka adu jago tetapi gemar melakukan tapa
brata. Kesinilah Imam Kyai Besari mengarahkan. Disamping diberi pelajaran
mengaji seperti murid yang lain maka Bagus Burham juga disuruh melakukan
“tapa kungkum”. Dari sini terbukalah hati Bagus Burham. Dikeheningan
malam, dengen gemriciknya suara air, diatasnya bintang-bintang
berkelap-kelip seolah-oleh menyadarkan Bagus Burham yang usianya juga
sudah semakin dewasa itu.
Setelah menjalani tapa kungkum selama 40 hari lamanya maka Bagus Burham
tumbuh menjadi anak yang pandai. Kyai Imam Besari tersenyum lega melihat
perkembangan anak asuhnya yang paling bengal itu. Terapinya kena sekali.
Padahal terapi itu hanya berdasarkan dongenn yang pernah didengarnya.
Bahwa dahulu kala ada seorang pemuda yang bengal, nakal, penjudi, pemalas,
perampok yang bernama Ken Arok. Namun karena ketekunan seorang pendidik
yang bernama Loh Gawe maka akhirnya Ken Arok enjadi raja di Singosari.
Menurunkan raja-raja besar di tanah Jawa. Dari Mojopahit sampai ke
Surakarta semua menurut silsilah masih keturunan langsung dari Ken Arok.
Dan R. Patah pun keturunan Ken Arok. Jadi Bagus Burham juga keturunan Ken
Arok. Siapa tahu kenakalannya juga turunan yang dikelak kemudian hari akan
menjadi orang yang luar biasa. Bagus Burham menjadi murid yang terpandai.
Selama 4 tahun dipondok Tegalsari ilmu gurunya sudah terkuran habis. Tidak
ada sisanya lagi. Kyai Imam Besari memuji keluhuran Tuhannya. Dia
melimpahkan habis ilmunya kepada muridnya. Setelah dirasa cukup maka Bagus
Burham kembali ke Surakarta. Oleh tuanya Bagus Burham disuruh langsung ke
Demak untuk belajar mengenal sastra Arab dan kebatinan jawa pada Pangeran
Kadilangu.
Apakah ayahnya punya maksud agar kelak anaknya dapat menandingi kepandaian
rajanya ?
Bagus Burham seorang kutu buku yang luar biasa. Dengan bekal kepandaian
yang dimiliki dari beberapa guru-gurunya, Bagus Burham kemudian menekuni
soal kesusastraan Jawa serta peninggalan-peninggalan nenek moyang.
Buku-buku berbahasa kawi kuna ditelaah dan dipelajarai sebaik-baiknya.
Jiwa petualang masih juga membara dalam kalbunya. Dia seringkali
mengadakan perjalanan dari satu daerah kedaerah yang lain. Bagus Burham
meninjau tempat-tempat yang bersejarah, tempat-tempat yang mengandung
nilai-nilai historis, tempat-tempat yang keramat, ke candi-candi dan
tempat-tempat penting lainnya. Disembarang tempat dipelbagai daerah kalau
dianggap ada orang yang memiliki kepandaian lebih maka tidak malu-malu
Bagus Burham berguru para orang tersebut. Tidak peduli dia hanyalah
seorang juru kunci atau orang biasa. Pada usia 18 tahun sebagaimana
kebiasaan anak priyayi waktu itu ingin mengabdikan dirinya kepada keraton.
Caranya haruslah dengan magang (pegawai percobaan) pada Kadipaten Anom.
Jiwa senimannya atau darah kepujanggaannya terasa mengalir deras
ditubuhnya. TIdak merasa puas dengan pekerjaan magang tersebut. Maka Bagus
Burham mohon pamit sebab dirasa tidak ada kemajuan. Dia ingin mengembara
ingin bertualan menuruti gejolak darah senimannya. Hampir seluruh pelosok
pulau Jawa telah dijelajahi oleh Bagus Burham. Bahkan juga luar jawa
sepeti Bali, Lombok, Ujung Pandang, Banjarmasin bahkan ada sumber yang
mengatakan pengembaraan Bagus Burham sampai di India dan Srilanka. Melihat
perjalanan hidupnya seperti tersebut diatas pantaslah kalau Bagus Burham
menjadi manusia yang kritis menghadapi suatu persoalan. (Ungkapan
perasaannya tampak ada karyanya ” Serat Kala Tida “.
Pulang dari pengembarannya Bagus Burham kawin. Karena sang mertua diangkat
menjadi Bupati di Kediri maka Bagus Burhampun mengikuti ke Kediri.
Ditempat tersebut yang terkenal sebagai tempat bersejarah banyak
peninggalan-peninggalan dari jaman terdahulu. Di Kediri pernah berdiri
kerajaan besar dimana salah satu rajanya adalah Sang Prabu Joyoboyo. Waktu
sang prabu berkuasa agaknya keadaan negara sangat tenteram dan damai
terbukti lahirnya beberapa karya sastra besar. Sang Prabu memerintahkan
kepada Empu Sedah dan Empu Panuluh agar menceritakan kembali atau menyusun
ceritera BARATAYUDAHA dalam bahasa yang lebih muda diambil dari buku Maha
Barata asli dari India. Demikian indahnya gubahan tersebut sehingga banyak
yang mengira bahwa kejadian itu terjadi di tanah Jawa. Sebelum raja
Joyoboyo, di Kediri juga lahir hasil sastra yang tinggi mutunya. Smara
Dahana kitab karya Empu Darmaja, juga buku Sumana Sentaka karya Triguna
merupakan hasil sastra yang sulit dicari bandingannya. Di daerah yang
seperti itu tentu saja banyak peninggalan-peninggalan berupan
rontal-rontal yang dimiliki penduduk warisan dari nenek moyang. Dengan
tekun Bagus Burham di Kediri waktunya dihabiskan untuk mempelajari
rontal-rontal yang dapat dikumpulkan dari perbagai daerah. Dari
rontal-rontal, pengalaman/pengetahuan selama mengembara dan berguru itulah
dia dapat menimba pelbagai ilmu.
Baru setelah Bagus Burham berumur 38 tahun mulai produktif dengan karya
sastranya. Dan pada tahun 1844 pihak keraton mengangkat menjadi Kliwon
Carik dan disyahkan menjadi Pujangga Keraton. Namanya Raden Ngabehi
Ronggowarsito dan semakin tenar. Kariernya tidak licin sebab agaknya juga
dipengaruhi bahwa orang tuanya (Raden Tumenggung Sastronegoro) dianggap
bersalah kepada kompeni Belanda sebab pernah merencanakan akan menggempur
benteng Kompeni diwaku jaman pemberontakan Diponegoro (1825-1830).
Akhirnya R.T. Sastronegoro dibuang dan makamnya ada di Jakarta.

SERAT JOKO LODANG
Gambuh
1. Jaka Lodang gumandhul
Praptaning ngethengkrang sru muwus
Eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi
Gunung mendhak jurang mbrenjul
Ingusir praja prang kasor

Joko Lodang datang berayun-ayun diantara dahan-dahan pohon
kemudian duduk tanpa kesopanan dan berkata dengan keras.
Ingat-ingatlah sudah menjadi kehendak Tuhan
bahwa gunung-gunung yang tinggi itu akan merendah
sedangkan jurang yang curam akan tampil kepermukaan
(akan terjadi wolak waliking jaman), karena kalah perang maka akan diusir
dari negerinya.

2.Nanging awya kliru
Sumurupa kanda kang tinamtu
Nadyan mendak mendaking gunung wis pasti
Maksih katon tabetipun
Beda lawan jurang gesong

Namun jangan salah terima menguraikan kata-kata ini.
Sebab bagaimanapun juga meskipun merendah kalau gunung
akan tetap masih terlihat bekasnya.
Lain sekali dengan jurang yang curam.
3. Nadyan bisa mbarenjul
Tanpa tawing enggal jugrugipun
Kalakone karsaning Hyang wus pinasti
Yen ngidak sangkalanipun
Sirna tata estining wong

Jurang yang curam itu meskipun dapat melembung,
namun kalau tidak ada tanggulnya sangat rawan dan mudah longsor.
(Ket. Karena ini hasil sastra maka tentu saja multi dimensi.
Yang dimaksud dengan jurang dan gunung bukanlah pisik
tetapi hanyalah sebagai yang dilambangkan).
Semuanya yang dituturkan diatas sudah menjadi kehendak Tuhan
akan terjadi pada tahun Jawa 1850.
(Sirna=0, Tata=5, Esthi=8 dan Wong=1).
Tahun Masehi kurang lebih 1919-1920.

Sinom
1. Sasedyane tanpa dadya
Sacipta-cipta tan polih
Kang reraton-raton rantas
Mrih luhur asor pinanggih
Bebendu gung nekani
Kongas ing kanistanipun
Wong agung nis gungira
Sudireng wirang jrih lalis
Ingkang cilik tan tolih ring cilikira

Waktu itu seluruh kehendaki tidak ada yang terwujud,
apa yang dicita-citakan buyar, apa yang dirancang berantakan,
segalanya salah perhitungan, ingin menang malah kalah,
karena datangnya hukuman (kutukan) yang berat dari Tuhan.
Yang tampak hanyalah perbuatan-perbuatan tercela.
Orang besar kehilangan kebesarannya, lebih baik tercemar nama daripada
mati,
sedangkan yang kecil tidak mau mengerti akan keadaannya.

2. Wong alim-alim pulasan
Njaba putih njero kuning
Ngulama mangsah maksiat
Madat madon minum main
Kaji-kaji ambataning
Dulban kethu putih mamprung
Wadon nir wadorina
Prabaweng salaka rukmi
Kabeh-kabeh mung marono tingalira

Banyak orang yang tampaknya alim, tetapi hanyalah semu belaka.
Diluar tampak baik tetapi didalamnya tidak.
Banyak ulama berbuat maksiat.
Mengerjakan madat, madon minum dan berjudi.
Para haji melemparkan ikat kepala hajinya.
Orang wanita kehilangan kewanitaannya karena terkena pengaruh harta benda.
Semua saja waktu itu hanya harta bendalah yang menjadi tujuan.

3. Para sudagar ingargya
Jroning jaman keneng sarik
Marmane saisiningrat
Sangsarane saya mencit
Nir sad estining urip
Iku ta sengkalanipun
Pantoging nandang sudra
Yen wus tobat tanpa mosik
Sru nalangsa narima ngandel ing suksma

Hanya harta bendalah yang dihormati pada jaman tersebut.
Oleh karena itu seluruh isi dunia penderitaan kesengsaraannya makin
menjadi-jadi.
Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 (Nir=0, Sad=6, Esthining=8, Urip=1).
Tahun Masehi kurang lebih tahun 1930.
Penghabisan penderitaan bila semua sudah mulai bertobat dan menyerahkan
diri
kepada kekuasaan Tuhan seru sekalian alam.

Megatruh
1. Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu
Jaka Lodang nabda malih
Nanging ana marmanipun
Ing waca kang wus pinesthi
Estinen murih kelakon

Mendengar segalanya itu Mbok Perawan merasa sedih.
Kemudian Joko Lodang berkata lagi :
“Tetapi ketahuilah bahwa ada hukum sebab musabab,
didalam ramalan yang sudah ditentukan haruslah diusahakan supaya
segera dan dapat terjadi “.

2. Sangkalane maksih nunggal jamanipun
Neng sajroning madya akir
Wiku Sapta ngesthi Ratu
Adil parimarmeng dasih
Ing kono kersaning Manon

Jamannya masih sama pada akhir pertengahan jaman.
Tahun Jawa 1877 (Wiku=7, Sapta=7, Ngesthi=8, Ratu=1).
Bertepatan dengan tahun Masehi 1945.
Akan ada keadilan antara sesama manusia. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan.

3. Tinemune wong ngantuk anemu kethuk
Malenuk samargi-margi
Marmane bungah kang nemu
Marga jroning kethuk isi
Kencana sesotya abyor

Diwaktu itulah seolah-olah orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong
kecil)
yang berada banyak dijalan.
Yang mendapat gembira hatinya sebab didalam benda tersebut
isinya tidak lain emas dan kencana.

SERAT SABDO JATI
Megatruh
1. Hawya pegat ngudiya RONGing budyayu
MarGAne suka basuki
Dimen luWAR kang kinayun
Kalising panggawe SIsip
Ingkang TAberi prihatos

Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,
agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala
cita-cita,
terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar
prihatin.

2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh
Galedehan kang sayekti
Talitinen awya kleru
Larasen sajroning ati
Tumanggap dimen tumanggon

Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama,
intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati,
agar mudah menanggapi sesuatu.

3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu
Angayomi ing tyas wening
Eninging ati kang suwung
Nanging sejatining isi
Isine cipta sayektos

Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan,
mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini
kosong
namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.

4. Lakonana klawan sabaraning kalbu
Lamun obah niniwasi
Kasusupan setan gundhul
Ambebidung nggawa kendhi
Isine rupiah kethon

Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran.
Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan)
akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul,
yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak.

5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu
Dadi panggonaning iblis
Mlebu mring alam pakewuh
Ewuh mring pananing ati
Temah wuru kabesturon

Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan,
sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan
kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan
itikad hati yang baik,
seolah-olah mabuk kepayang.

6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu
Hayuning tyas sipat kuping
Kinepung panggawe rusuh
Lali pasihaning Gusti
Ginuntingan dening Hyang Manon

Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan
yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya,
sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek.
Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.

7. Parandene kabeh kang samya andulu
Ulap kalilipen wedhi
Akeh ingkang padha sujut
Kinira yen Jabaranil
Kautus dening Hyang Manon

Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir,
tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga
yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan.

8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh
Kewuhan sajroning ati
Yen tiniru ora urus
Uripe kaesi-esi
Yen niruwa dadi asor

Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran
melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan
tercela akhirnya menjadi sengsara.

9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung
Anggelar sakalir-kalir
Kalamun temen tinemu
Kabegjane anekani
Kamurahane Hyang Manon

Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan
langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan
kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.

10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun
Yen temen-temen sayekti
Dewa aparing pitulung
Nora kurang sandhang bukti
Saciptanira kelakon

Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan
setulus hati.
Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi
segala cita-cita dan kehendaknya tercapai.

11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur
Saka pengunahing Widi
Ambuka warananipun
Aling-aling kang ngalingi
Angilang satemah katon

Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung
yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui.

12. Para jalma sajroning jaman pakewuh
Sudranira andadi
Rahurune saya ndarung
Keh tyas mirong murang margi
Kasekten wus nora katon

Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan,
cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela,
makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan
diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.

13. Katuwane winawas dahat matrenyuh
Kenyaming sasmita sayekti
Sanityasa tyas malatkunt
Kongas welase kepati
Sulaking jaman prihatos

Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan
tersebut,
senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut.

14. Waluyane benjang lamun ana wiku
Memuji ngesthi sawiji
Sabuk tebu lir majenum
Galibedan tudang tuding
Anacahken sakehing wong

Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877
(Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi
1945).
Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila,
hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang.

15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu
Kala Suba kang gumanti
Wong cilik bisa gumuyu
Nora kurang sandhang bukti
Sedyane kabeh kelakon

Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba.
Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan
makan
seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.

16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput
Mulur lir benang tinarik
Nanging kaseranging ngumur
Andungkap kasidan jati
Mulih mring jatining enggon

Sayang sekali “pengelihatan” Sang Pujangga belum sampai selesai,
bagaikan menarik benang dari ikatannya.
Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir
datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.

17.Amung kurang wolung ari kang kadulu
Tamating pati patitis
Wus katon neng lokil makpul
Angumpul ing madya ari
Amerengi Sri Budha Pon

Yang terlihat hanya kurang 8 hai lagi, sudah sampai waktunya,
kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon.

18. Tanggal kaping lima antarane luhur
Selaning tahun Jimakir
Taluhu marjayeng janggur
Sengara winduning pati
Netepi ngumpul sak enggon

Tanggal 5 bulan Sela
(Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu,
Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873)
kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan
sang Pujangga kembali menghadap Tuhan.

19. Cinitra ri budha kaping wolulikur
Sawal ing tahun Jimakir
Candraning warsa pinetung
Sembah mekswa pejangga ji
Ki Pujangga pamit layoti

Karya ini ditulis dihari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jimakir 1802.
(Sembah=2, Muswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi
1873).
SERAT KALATIDA
Sinom
1. Mangkya darajating praja
Kawuryan wus sunyaturi
Rurah pangrehing ukara
Karana tanpa palupi
Atilar silastuti
Sujana sarjana kelu
Kalulun kala tida
Tidhem tandhaning dumadi
Ardayengrat dene karoban rubeda

Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot.
Situasi (keadaan tata negara) telah rusah, karena sudah tak ada yang dapat
diikuti lagi.
Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama.
Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh
keragu-raguan).
Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan kerepotan.

2. Ratune ratu utama
Patihe patih linuwih
Pra nayaka tyas raharja
Panekare becik-becik
Paranedene tan dadi
Paliyasing Kala Bendu
Mandar mangkin andadra
Rubeda angrebedi
Beda-beda ardaning wong saknegara

Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik,
Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka
masyarakat baik,
namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan.
Oleh karena daya jaman Kala Bendu.
Bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi.
Lain orang lain pikiran dan maksudnya.

3.Katetangi tangisira
Sira sang paramengkawi
Kawileting tyas duhkita
Katamen ing ren wirangi
Dening upaya sandi
Sumaruna angrawung
Mangimur manuhara
Met pamrih melik pakolih
Temah suka ing karsa tanpa wiweka

Waktu itulah perasaan sang Pujangga menangis, penuh kesedihan,
mendapatkan hinaan dan malu, akibat dari perbuatan seseorang.
Tampaknya orang tersebut memberi harapan menghibur
sehingga sang Pujangga karena gembira hatinya dan tidak waspada.

4.Dasar karoban pawarta
Bebaratun ujar lamis
Pinudya dadya pangarsa
Wekasan malah kawuri
Yan pinikir sayekti
Mundhak apa aneng ngayun
Andhedher kaluputan
Siniraman banyu lali
Lamun tuwuh dadi kekembanging beka

Persoalannya hanyalah karena kabar angin yang tiada menentu.
Akan ditempatkan sebagai pemuka tetapi akhirnya sama sekali tidak benar,
bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali.
Sebenarnya kalah direnungkan, apa sih gunanya menjadi pemuka/pemimpin ?
Hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja.
Lebih-lebih bila ketambahan lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah
kerepotan.

5. Ujaring panitisastra
Awewarah asung peling
Ing jaman keneng musibat
Wong ambeg jatmika kontit
Mengkono yen niteni
Pedah apa amituhu
Pawarta lolawara
Mundhuk angreranta ati
Angurbaya angiket cariteng kuna

Menurut buku Panitisastra (ahli sastra), sebenarnya sudah ada peringatan.
Didalam jaman yang penuh kerepotan dan kebatilan ini, orang yang berbudi
tidak terpakai.
Demikianlah jika kita meneliti. Apakah gunanya meyakini kabar angin
akibatnya hanya akan menyusahkan hati saja. Lebih baik membuat karya-karya
kisah jaman dahulu kala.

6. Keni kinarta darsana
Panglimbang ala lan becik
Sayekti akeh kewala
Lelakon kang dadi tamsil
Masalahing ngaurip
Wahaninira tinemu
Temahan anarima
Mupus pepesthening takdir
Puluh-Puluh anglakoni kaelokan

Membuat kisah lama ini dapat dipakai kaca benggala,
guna membandingkan perbuatan yang salah dan yang betul.
Sebenarnya banyak sekali contoh -contoh dalam kisah-kisah lama,
mengenai kehidupan yang dapat mendinginkan hati, akhirnya “nrima”
dan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan.
Yah segalanya itu karena sedang mengalami kejadian yang aneh-aneh.

7. Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Milu edan nora tahan
Yen tan milu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah karsa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada

Hidup didalam jaman edan, memang repot.
Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya
jaman
tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan.
Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang
lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa
ingat dan waspada.

8. Semono iku bebasan
Padu-padune kepengin
Enggih mekoten man Doblang
Bener ingkang angarani
Nanging sajroning batin
Sejatine nyamut-nyamut
Wis tuwa arep apa
Muhung mahas ing asepi
Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma

Yah segalanya itu sebenarnya dikarenakan keinginan hati. Betul bukan ?
Memang benar kalau ada yang mengatakan demikian.
Namun sebenarnya didalam hati repot juga. Sekarang sudah tua,
apa pula yang dicari. Lebih baik menyepi diri agar mendapat ampunan dari
Tuhan.

9.Beda lan kang wus santosa
Kinarilah ing Hyang Widhi
Satiba malanganeya
Tan susah ngupaya kasil
Saking mangunah prapti
Pangeran paring pitulung
Marga samaning titah
Rupa sabarang pakolih
Parandene maksih taberi ikhtiyar

Lain lagi bagi yang sudah kuat. Mendapat rakhmat Tuhan.
Bagaimanapun nasibnya selalu baik.
Tidak perlu bersusah payah tiba-tiba mendapat anugerah.
Namun demikian masih juga berikhtiar.

10. Sakadare linakonan
Mung tumindak mara ati
Angger tan dadi prakara
Karana riwayat muni
Ikhtiyar iku yekti
Pamilihing reh rahayu
Sinambi budidaya
Kanthi awas lawan eling
Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma

Apapun dilaksanakan. Hanya membuat kesenangan pokoknya tidak menimbulkan
persoalan.
Agaknya ini sesuai dengan petuah yang mengatakan bahwa manusia itu wajib
ikhtiar,
hanya harus memilih jalan yang baik.
Bersamaan dengan usaha tersebut juga harus awas dan
waspada agar mendapat rakhmat Tuhan.

11. Ya Allah ya Rasulullah
Kang sipat murah lan asih
Mugi-mugi aparinga
Pitulung ingkang martani
Ing alam awal akhir
Dumununging gesang ulun
Mangkya sampun awredha
Ing wekasan kadi pundi
Mula mugi wontena pitulung Tuwan

Ya Allah ya Rasulullah, yang bersifat murah dan asih,
mudah-mudahan memberi pertolongan kepada hambamu disaat-saat menjelang
akhir ini.
Sekarang kami telah tua, akhirnya nanti bagaimana.
Hanya Tuhanlah yang mampu menolong kami.

12. Sageda sabar santosa
Mati sajroning ngaurip
Kalis ing reh aruraha
Murka angkara sumingkir
Tarlen meleng malat sih
Sanityaseng tyas mematuh
Badharing sapudhendha
Antuk mayar sawetawis
BoRONG angGA saWARga meSI marTAya

Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa,
seolah-olah dapat mati didalam hidup.
Lepas dari kerepotan serta jauh dari keangakara murkaan.
Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada MU agar mendapat ampunan
sekedarnya.
Kemudian kami serahkan jiwa dan raga dan kami.

SABDA TAMA
Gambuh
1. Rasaning tyas kayungyun
Angayomi lukitaning kalbu
Gambir wanakalawan hening ing ati
Kabekta kudu pitutur
Sumingkiring reh tyas mirong

Tumbuhlah suatu keinginan melahirkan perasaan dengan hati yang hening
disebabkan ingin memberikan petuah-petuah agar dapat menyingkirkan hal-hal
yang salah.

2. Den samya amituhu
Ing sajroning Jaman Kala Bendu
Yogya samyanyenyuda hardaning ati
Kang anuntun mring pakewuh
Uwohing panggawe awon

Diharap semuanya maklum bahwa dijaman Kala Bendu
sebaiknya mengurangi nafsu pribadi yang akan membenturkan kepada
kerepotan.
Hasilnya hanyalah perbuatan yang buruk.

3.Ngajapa tyas rahayu
Nyayomana sasameng tumuwuh
Wahanane ngendhakke angkara klindhih
Ngendhangken pakarti dudu
Dinulu luwar tibeng doh

Sebaiknya senantiasa berbuat menuju kepada hal-hal yang baik.
Dapat memberi perlindungan kepada siapapun juga.
Perbuatan demikian akan melenyapkan angkara murka,
melenyapkan perbuatan yang bukan-bukan dan terbuang jauh.

4. Beda kang ngaji mumpung
Nir waspada rubedane tutut
Kakinthilan manggon anggung atut wuri
Tyas riwut ruwet dahuru
Korup sinerung agoroh

Hal ini memang lain dengan yang ngaji pumpung.
Hilang kewaspadaannya dan kerepotanlah yang selalu dijumpai,
selalu mengikuti hidupnya. Hati senantiasa ruwet karena selalu berdusta.

5. Ilang budayanipun
Tanpa bayu weyane ngalumpuk
Sakciptane wardaya ambebayani
Ubayane nora payu
Kari ketaman pakewoh

Lenyap kebudayaannya. Tidak memiliki kekuatan dan ceroboh.
Apa yang dipikir hanyalah hal-hal yang berbahaya.
Sumpah dan janji hanyalah dibibir belaka tidak seorangpun mempercayainya.
Akhirnya hanyalah kerepotan saja.

6. Rong asta wus katekuk
Kari ura-ura kang pakantuk
Dandanggula lagu palaran sayekti
Ngleluri para leluhur
Abot ing sih swami karo

Sudah tidak berdaya. Hanya tinggallah berdendang.
Mendendangkan lagu dandang gula palaran hasil karya nenek moyang dahulu
kala,
betapa beratnya hidup ini seperti orang dimadu saja.

7. Galak gangsuling tembung
Ki Pujangga panggupitanipun
Rangu-rangu pamanguning reh harjanti
Tinanggap prana tumambuh
Katenta nawung prihatos

Ki Pujangga didalam membuat karyanya mungkin ada kelebihan dan
kekurangannya.
Olah karena itu ada perasaan ragu-ragu dan khawatir,
barangkali terdapat kesalahan/kekeliruan tafsir, sebab sedang prihatin.

8. Wartine para jamhur
Pamawasing warsita datan wus
Wahanane apan owah angowahi
Yeku sansaya pakewuh
Ewuh aya kang linakon

Menurut pendapat para ahli, wawasan mereka keadaan selalu berubah-ubah.
Meningkatkan kerepotan apa pula yang hendak dijalankan.

9. Sidining Kala Bendu
Saya ndadra hardaning tyas limut
Nora kena sinirep limpating budi
Lamun durung mangsanipun
Malah sumuke angradon

Azabnya jaman Kala Bendu, makin menjadi-jadi nafsu angkara murka.
Tidak mungkin dikalahkan oleh budi yang baik.
Bila belum sampai saatnya akibatnya bahkan makin luar biasa.

10. Ing antara sapangu
Pangungaking kahanan wus mirud
Morat-marit panguripaning sesami
Sirna katentremanipun
Wong udrasa sak anggon-anggon

Sementara itu keadaan sudah semakin tidak karu-karuwan,
penghidupan semakin morat-marit, tidak ketenteraman lagi, kesedihan
disana-sini.

11. Kemang isarat lebur
Bubar tanpa daya kabarubuh
Paribasan tidhem tandhaning dumadi
Begjane ula dahulu
Cangkem silite angaplok

Segala dosa dan cara hancur lebur, seolah-olah hati dikuasai ketakutan.
Yang beruntung adalah ular berkepala dua, sebab kepala serta buntutnya
dapat makan.

12. Ndhungkari gunung-gunung
Kang geneng-geneng padha jinugrug
Parandene tan ana kang nanggulangi
Wedi kalamun sinembur
Upase lir wedang umob

Gunung-gunung digempur, yang besar-besar dihancurkan
meskipun demikian tidak ada yang berani melawan.
Sebab mereka takut kalau disembur (disemprot ular) berbisa.
Bisa racun ular itu bagaikan air panas.

13. Kalonganing kaluwung
Prabanira kuning abang biru
Sumurupa iku mung soroting warih
Wewarahe para Rasul
Dudu jatining Hyang Manon

Tetapi harap diketahui bahwa lengkungan pelangi yang
berwarna kuning merah dan biru sebenarnya hanyalah cahaya pantulan air.
Menurut ajaran Nabi itu bukanlah Tuhan yang sebenarnya.

14. Supaya pada emut
Amawasa benjang jroning tahun
Windu kuning kono ana wewe putih
Gegamane tebu wulung
Arsa angrebaseng wedhon

Agar diingat-ingat. Kelak bila sudah menginjak tahun windu kuning
(Kencana) akan ada wewe putih (setan putih), yang bersenjatakan tebu hitam
akan menghancurkan wedhon (pocongan setan).
(Sebuah ramalan yang perlu dipecahkan).

15. Rasa wes karasuk
Kesuk lawan kala mangsanipun
Kawises kawasanira Hyang Widhi
Cahyaning wahyu tumelung
Tulus tan kena tinegor

Agaknya sudah sampai waktunya, karena kekuasaan Tuhan telah datang jaman
kebaikan, tidak mungkin dihindari lagi.

16, Karkating tyas katuju
Jibar-jibur adus banyu wayu
Yuwanane turun-temurun tan enting
Liyan praja samyu sayuk
Keringan saenggon-enggon

Kehendak hati pada waktu tersebut hanya didasarkan kepada ketentraman
sampai ke anak cucu. Negara-negara lain rukun sentosa dan dihormati
dimanapun.

17. Tatune kabeh tuntun
Lelarane waluya sadarum
Tyas prihatin ginantun suka mrepeki
Wong ngantuk anemu kethuk
Isine dinar sabokor

Segala luka-luka (penderitaan) sudah hilang.
Perasaan prihatin berobah menjadi gembira ria.
Orang yang sedang mengantuk menemukan kethuk (gong kecil)
yang berisi emas kencana sebesar bokor.

18. Amung padha tinumpuk
Nora ana rusuh colong jupuk
Raja kaya cinancangan angeng nyawi
Tan ana nganggo tinunggu
Parandene tan cinolong

Semua itu hanya ditumpuk saja, tidak ada yang berbuat curang maupun yang
mengambil. Hewan piraan diikat diluar tanpa ditunggu namun tidak ada yang
dicuri.

19. Diraning durta katut
Anglakoni ing panggawe runtut
Tyase katrem kayoman hayuning budi
Budyarja marjayeng limut
Amawas pangesthi awon

Yang tadinya berbuat angkara sekarang ikut pula berbuat yang baik-baik.
Perasaannya terbawa oleh kebaikan budi. Yang baik dapat menghancurkan yang
jelek.

20. Ninggal pakarti dudu
Pradapaning parentah ginugu
Mring pakaryan saregep tetep nastiti
Ngisor dhuwur tyase jumbuh
Tan ana wahon winahon

Banyak yang meninggalkan perbuatan-perbuatan yang kurang baik. Mengikuti
peraturan-peraturan pemerintah. Semuanya rajin mengerjakan tugasnya
masing-masing. Yang dibawah maupun yang diatas hatinya sama saja. Tidak
ada yang saling mencela.

21.Ngratani sapraja agung
Keh sarjana sujana ing kewuh
Nora kewran mring caraka agal alit
Pulih duk jaman runuhun
Tyase teteg teguh tanggon

Keadaan seperti itu terjadi diseluruh negeri. Banyak sekali orang-orang
ahli dalam bidang surat menyurat. Kembali seperti dijaman dahulu kala.
Semuanya berhati baja.

RAMALAN JOYOBOYO

Badan Penerbit Kwa Giok Djing, Kudus,
Sapta Pujangga dan Sejarah Indonesia, hal. 55-68

Rawa dadi pada dadi bera
Iblis jalma manungsa
Iblis menjelis
manungsa sara
Wong salah bungah-bungah
Wong bener thenger-thenger.
Miturut ramalan saka Prabu Noto Aji Joyoboyo, yen wiwit Tanah Jawa diisi
manungsa kaping pindone sahingga besuk tekane Kiamat Kubra (gantining
Jaman), arep ngalami 2100 Taun Surya utawa 2163 taun candra, kang kabagi
dadi telung periode jaman gedhe utawa diwastani TRIKALI.

Periode Jaman gedhe mau siji-sijine kabagi meneh dadi Pitung Jaman Cilik
utawa kang kasebut SAPTA MALOKO.
Trikali kabagi dadi telu yaiku :
1. Kalisura (Jaman Alam Kaluhuran) suwene 700 Taun Surya.
2. Kalijaga (Jaman Panguripan) suwene 700 Taun Surya.
3. Kalisengoro (Jaman Ngalam Tirta) suwene 700 Taun Surya
.Ing kene sing arep dibahas namung Kalisengoro, sawijineng Trikali kang
pungkasan.

Kalisengoro kabagi dadi Sapta Maloko, yaiku :
1. Kalajangga (Jaman Kembang Gadung)
2. Kalasekti (Jaman Kuasa)
3. Kalajaya (Jaman Hunggul)
4. Kalabendu (Jaman sengsara lan Angkaramurka)
5. Kalisuba (Jaman Kamulyan)
6. Kalisumbaga (Jaman Kasohor)
7. Kalisurata (Jaman Alus)

Disawang kepenak, jebule ora kepenak

February 13, 2008 by wahyutri

Dadi wong urip, jebulane sawang sinawang yah.
Malah kadang kedadian sing wolak walikEsih enom, kesehatan dekorbanaken dinggo golek duwit …
(kakehan pegawaian kelalen mangan, sing paling ringan lara
maag lan ginjel mergane kurang nginum ..)
Wis tuwa, kesugihane dekorbanaken denggo kesehatan …
(mbuh priwe carane, ngendi nggone lan pira mbayare
delakoni sing penting mari..)

Karena banda, kanca dianggep sedulur .. (kanca bisnis lah)
Karena bandha, sedulur dianggep wong liya .. (ora
profitable jarene..!!)

Wong sugih kuat tuku springbed empuk tur larang, tapi ora
bisa turu ….
(lha wong … stress mikir bisnise ..)
Wong mlarat ra kuat tuku springbed empuk, tapi turune
angler malah ngorok ..!! (mungkin kekeselen)

Wong sugih nduwe duwit denggo foya-foya, tapi ora nana
wektu
Wong mlarat nduwe wektu denggo foya-foya, tapi ora duwe
duit

Esih enom nduwe cita-cita urip sugih ben bisa nikmati
sugihe
Wis dadi sugih ora nana wektu nggo nikmati sugihe …
.. ehhh pas nduwe wektu eee umure wis tuwa, dadinei ya ra
nduwe tenaga, wong wis loyo si..

Depikir-pikir, wong urip pancen sing penting kudu
mensyukuri apa bae sing wis dadi nasib lan kersaning Gusti
Allah

nuwun
ali.s