Gaji Papa Berapa?

March 4, 2008 by wahyutri

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, “Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?”

“Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?”

“Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Sarah singkat.

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.

Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?”

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. “Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur” perintah Andrew

Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,

Sarah kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?”
“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini ? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah”.

“Tapi Papa…”

Kesabaran Andrew pun habis. “Papa bilang tidur !” hardiknya mengejutkan Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata “Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ?

Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp. 5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih” jawab Andrew

“Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini”.

“lya, iya, tapi buat apa ?” tanya Andrew lembut.

“Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. 15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp.5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa” kata Sarah polos.

Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.

Kopda milis Purbalingga di soto Eling2

February 27, 2008 by wahyutri

Kopda milis Purbalingga di sroto Eling-Eling, Casablanca, pada Hari sabtu tanggal 9 Februari 2007.

Pokoknya seru deh

Saringan Tiga Kali

February 27, 2008 by wahyutri

Di jaman Yunani kuno, Socrates adalah seorang terpelajar dan intelektual yang terkenal reputasinya karena pengetahuan dan kebijaksanannyayang tinggi. Suatu hari seorang pria berjumpa dengan Socrates dan berkata, “Tahukah anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman anda?”

“Tunggu sebentar,” jawab Socrates. “Sebelum memberitahukan saya sesuatu, saya ingin Anda melewati sebuah ujian kecil.

Ujian tersebut dinamakan Ujian Saringan Tiga Kali.”

“Saringan tiga kali?” tanya pria tersebut. “Betul,” lanjut Socrates.

“Sebelum anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, mungkin merupakan ide yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan
anda katakan. Itulah kenapa saya sebut sebagai Ujian Saringan Tiga Kali.

Saringan yang pertama adalah :

KEBENARAN.

Sudah pastikah anda bahwa apa yang anda akan katakan kepada saya adalah
benar?” “Tidak,” kata pria tersebut,”sesungguh nya saya baru saja
mendengarnya dan ingin memberitahukannya kepada anda”. “Baiklah,” kata
Socrates. ” Jadi anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak.”

Sekarang mari kita coba saringan kedua yaitu :

KEBAIKAN

Apakah yang akan anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu
yang baik?” “Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk”. “Jadi,” lanjut
Socrates, “anda ingin mengatakan kepada saya

sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi anda tidak yakin kalau itu benar.

Anda mungkin masih bisa lulus ujian selanjutnya, yaitu:

KEGUNAAN

Apakah apa yang anda ingin beritahukan kepada saya tentang teman saya
tersebut akan berguna buat saya?” “Tidak, sungguh tidak,” jawab pria

tersebut. “Kalau begitu,” simpul Socrates,” jika apa yang anda ingin
beritahukan kepada saya. tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak berguna
untuk saya, kenapa ingin menceritakan kepada saya ?”

Sebuah panah yang telah melesat dari busurnya dan membunuh jiwa yang tak
bersalah, dan kata-kata yang telah diucapkan yang menyakiti hati seseorang,
keduanya tidak pernah bisa ditarik kembali.
Jadi sebelum berbicara, gunakanlah Saringan Tiga Kali.

Putri ketiga Kami

February 27, 2008 by wahyutri

Pagi itu Hari Rabu, tanggal 20 - 02 - 2008, nggak seperti biasanya aku dibangunkan pukul 3.00 dini hari. Yah.. bangun yah, sudah mulai mules, “Kata Istriku tercinta. Aku segera bangun, dan memperhatikan istriku yang saat itu terlihat sedang mules perutnya. “Sudah berama lama sekali mulesnya?”, tanyaku. “Masih lama sih, 1 jam sekali”, kata Istriku. “Masih lama berarti, “Kataku.

Si kecil, Regita Bilqis, yang kebetulan badannya juga sedang panas tiba-tiba terbangun dan menangis. “Ngopol yah ..”, Kata Regita sambil menangis. Nggak papa Sayang, sini celananya dibuka yah, “Kataku. Setelah cebok dan ganti celana, si Kecil yang kebetulan suhu bandannya cukup panas minta di gendong. Yuk, kita ke ruang tamu saja, nanti kalo kita ngobrol disini si sulung, Nabila Tasya, malah terbangun juga “ajakku ke istriku. Sambil menggendong si kecil, Regita, aku keluar ke ruang tamu. Ayah.. barnie, “Rengek Regita mita disetelkan CD barnie yang baru aku beli sore tadi. “Iyah, tapi ade sembuh yah”, Kataku sembil menyalakan komputer, karena sudah sebulan DVD player kami rusak dan belum sempat diperbaiki, sehingga setiap nyetel CD atau DVD menggunakan komputer.

Regita nonton Barnie sambil tiduran, kepalanya aku elus2 dengan penuh kasih sayang. Perlahan-lahan Regita mulai tertidur kembali. “Sudah berama lama sekali?”, tanyaku ke istriku. Sudah sekitar 45 menit sekali mulesnya. Pagi itu sekitar pukul 5.00 pagi mulai terdengar azan shubuh. Aku segera mengambil air wudhlu dan berpamitan ke istriku. “nda, aku ke masjid dulu yah. Tolong jagain De Gita! “Pintaku. Iya Yah, “sahut istriku.

Sepulangku dari mesjid aku lihat Regita masih tidur, segera aku matikan komputerku. Aku mendapat informasi dari istriku kalau mertuaku akan datang. Mungkin mereka ngerti, bahwa nanti ketika saat lahiran di rumah perlu ada yang nungguin anak-anak kami yang masih kecil-kecil.

Hari itu juga aku memutuskan untuk tidak berangkat kerja. Segera kukirim sms ke temanku untuk disampaikan ke atasanku bahwa hari itu aku nggak bisa masuk kerja karena istri mau melahirkan.

Sekitar jam 9 pagi mertuaku dateng bersama adik iparku. Sekitar jam 12 siang saat mules istriku sudah lebih sering, 5 menit sekali, aku putuskan untuk datang ke bidan terdekat yang kebetulan ada di rumah. Setelah diperiksa ternyata baru pembukaan dua. “Masih lama bu, coba nanti kesini lagi sore sekitar jam 5, “kata bidan yang memeriksa Istriku. Setelah pemeriksaan selesai, aku ajak istriku pulang ke rumah. Di Rumah sudah mulai ramai, karena kebetulan kakak iparku juga datang (kebetulan kami tetanggaan).

Sekitar jam 5 sore, aku bawa lagi istriku ke bidan. Mulesnya sudah lebih cepat periodenya, namun belum ada tanda-tanda ketuban pecah. Akhirnya bidan memutuskan untuk memberi perangsang melalui suntikan. Betul juga, sekitar pukul 17.10 istriku sudah mulai berasa, akhirnya istriku segera di rebahkan di tempat persalinan. Bidan mengizinkanku untuk menemani proses kelahiran anakku yang ketiga.

Pembantu bidan, yang membantu proses kelahiran, juga sudah datang. Benar-benar, kali ini untuk yang kedua kalinya aku menyaksikan proses kelahiran anakku (anakku yang kedua tidak sempat tertunggui). Aku menyaksikan pengorbanan seorang wanita ketika melahirkan seorang anak adam dari rahim-nya. Perjuangannya, Subhanallah, luar biasa. Istriku memegang erat tanganku ketika melahirkan anakku yang ketiga. Tanpa sadar aku ikut “ngeden” :).

Sekitar pukul 17.17, lahirlah anakku yang ketiga secara normal. Alhamdulillah semuanya selamat dan sehat. Aku elus2 kepala istriku sambil tersenyum, dan diapun tersenyum. Aku cium kening istriku yang terlihat letih sekali. “Yang, Anak kita sudah tiga” , kataku sambil tersenyum. “Iyah” , Jawabnya sambil tersenyum manis.

Setelah bayi dibersihkan segera aku gendong, kemudian aku lafazkan azan di telinga kanannya dan qomat telinga kirinya. Aku periksa satu-satu, alhamdulillah semuanya baik-baik. Alhamdulillah Ya Allah…!! Semoga kami diberi kekuatan untuk mebesarkan, mendidik dan memenuhi kewajiban kami sebagai orang tua. Amin.

Joyoboyo

February 13, 2008 by wahyutri

Pada hari Senin Legi tanggal 10 Zulkaidah tahun Jawa 1728 atau tanggal 15
Maret 1802 Masehi kurang lebih jam 12.00 siang lahirlah seorang bayi
dirumah kakek yang bernama R. Ng. Yosodipuro I, seorang Pujangga Keraton
yang terkenal dijamannya. Bayi yang baru lahir itu diberi nama Bagus
Burham. Sejak umur 2 tahun sampai 12 tahun Bagus Burham ikut
kakeknya.Ayahnya bernama R. Tumenggung Sastronegoro yang mengharapkan
anaknya dikelak kemudian hari menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan
negaranya. Maka oleh sang ayah, Bagus Burham dikirim ketempat pendidikan
yang memungkinkan dapat mendidik anaknya lebih baik dari dirinya
sendiri.Waktu itu pondok Pesantren di kawasan Ponorogo yang dipimpin oleh
Kyai Imam Besari terkanal sampai dipusat Kerajaan Surakarta. Kesanalah
Bagus Burham dikirim untuk mendapatkan tambahan ilmu lahir batin serta
keagamaan. Pondok Tegalsari yang dipimpin Kyai Imam Besari ini mempunyai
murid yang banyak dan memiliki kepandaian yang pilih tanding.Bagus Burham berangkat ke Pesantren Tegalsari disertai embannya yang
bernama Ki Tanujoyo.
Ditempat yang baru itu Bagus Burham sangat malas. Ditambah lagi lebih suka
menjalankan maksiat dari pada mengaji. Berjudi adalah merupakan
pekerjaannya setiap hari. Juga pekerjaan maksiat yang lainnya. Adu ayam
termasuk kesukaan yang tidak perbah diluangkan. Dari pada mengaji
hari-harinya dihabiskan dimeja-meja judi dari satu desa ke desa lainnya.
Sehingga terkenallah Bagus Burham bukan sebagai santri yang soleh tetapi
sebagai penjudi ulung dikalangan orang-orang di daerah Ponorogo. Dasar
seorang anak Tumenggung, uang banyak dan biasanya dimanja oleh orang tua
atau kakeknya. Karena kegemarannya bermain judi, adu ayam dan
perbuatan-perbuatan maksiat yang lain Bagus Burham banyak berkenalan
dengan warok-warok Ponorogo yang satu kegemaran.
Perbuatan putra Tumenggung ini sangat merepotkan hari Kyai Imam Besari.
Diharapkan seorang putra priyayi keraton ini akan memberi suri teladan
bagi murid-murid (santri-santri) yang lein tetapi ternyata
sebaliknya.Seringkali Bagus Burham mendapat teguran dan marah dari Kyai
Besari. Namun hal itu tidak merubah sifatnya. Dia tetap penjudi, tetap
penyabung ayam, tetap gemar pada tindakan-tindakan yang menjurus ke
maksiat. Karena merasa bosan setiap hari mendapat dampratan dari gurunya
maka Bagus Burham perni meninggalkan pondok Tegalsari diikuti oleh Ki
Tanujoyo.
(Versi lain mengatakan bahwa kepergian Bagus Burham karena KyaiImam Besari
merasa jengkel akan ulah Bagus Burham. Kemudian pimpinan pondok Tegalsari
itu memanggil abdi kinasih Ki Tanujoyo dan menseyogyakan Bagus Burham
tidak usah belajar mengaji di pondok Tegalsari).
Meninggalkan pondok Tegalsari Bagus Burham tidak mau pulang ke Solo.
Dengan diiring oleh oleh abdinya yang bernama Ki Tanujoyo. Bagus Burham
bertualang sampai di Madiun. Ditempat itu uang sakunya habis. Ki Tanujoyo
kemudian berdagang barang loakan. Sedangkan Bagus Burham tetap pada
kegemarannya semula. Betapa bingungnya Raden Tumenggung Sastronegoro
tatkala mendapat laporan Kyai Imam Besari bahwa puteranya pergi dari
Tegalsari. Kemudian dipanggillah di Josono agar mencari Bagus Burham
sampai ketemu. Bila ketemu agar diajal kembali ke Tegalsari. Kyai Imam
Besari kembali dari Keraton Solo mendapat laporan dari penduduk Tegalsari
bahwa sekarang daerah Tegalsari tidak aman. Banyak pencuri serta tanaman
diserang hama. Kyai Imam Besari memohon petunjuak dari Tuhan. Mendapatkan
ilham bahwa keadaan daerahnya akan kembali aman damai apabila Bagus Burham
kembali ke Tegalsari lagi. Oleh karena itu Kyai Imam Besari segera
mengutus ki Kromoleyo agar supaya berangkat mencari kemana gerangan
perginya Bagus Burham. Bagi Ki Kromoleyo bukan pekerjaan yang sulit
mencari Bagus Burham. Sebab dia tahu kehidupun macam apa yang digemari
Bagus Burham. Tempat judi, tempat adu ayam. Itulah sasaran Ki Kromoleyo.
Pada penjudi dan pengadu ayam ditanyakan apakah kenal dengan pemuda yang
bernama Bagus Burham. Orangnya tampan. Jejak Bagus Burham akhirnya terbau
juga. Ki Kromoleyo dapat menemukan Bagus Burham dan mengajak kembali ke
Tegalsari. Namun Bagus Burham tidak mau. Karena bujukan Ki Josono utusan
orang tuanya yang kebetulan juga sudah menemukan tempat Bagus Burham maka
kembalilah Bagus Burham ke Tegalsari.
Kyai Imam Besari menghadapi Bagus Burham dengan cari lain. Sebab ternyata
sekembalinya dari petualangannya Bagus Burham bukan semakin rajin mengaji
tetapi semakin boglok dan bodoh. Tampaknya. Menghadapi murid yang demikian
Kyai yang sudah berpengalaman itu lalu mengambil jalan lain. Bagus Burham
tidak langsung tidak langsung diajar mengaji seperti santri-santri yang
lain. Dia bukan keturunang orang biasa tetapi masuk memiliki darah
satriya. Maka tidak mengherankan kalau dia juga memiliki/mewarisi
sifat-sifat leluhurnya. Gemar sekali kepada hal-hal yang memperlihatkan
kejantanan seperti adu ayam dan lain sebagainya.
Menurut serat “CANDRA KANTHA” buatan Raden Ngabehi Tjondropradoto antara
lain menyebutkan bahwa : Raden Patah berputera R. Tejo ( Pangeran
Pamekas). Pangeran Pamekas berputra Panembahan Tejowulan di Jogorogo.
Panembahan Tejowulan berputra Tumenggung Sujonoputro seorang pujangga
keraton Pajang. Kemudian Raden Tumenggung Sujonoputro berputra Tumenggung
Tirtowiguno. Sedangkan Tumenggung Tirtowiguno ini mempunyai putra R. Ng.
Yosodipuro I pujangga keraton Surakarta. Kemudian sang pujangga berputra
R. Ng. Yosodipuro II (Raden Tumenggung Sastronegoro) ayah dari Bagus
Burham. (Dari sumber lain menyebutkan bahwa R. Tumenggung Sastronegoro
bukan ayah Bagus Burham tetapi kakeknya. Ayahnya bernama Mas Ngebehi
Ronggowarsito Panewu Carik Kadipaten Anom). Dari silsilah tersebut
diketahui bahwa Bagus Burham masih ada keturunan darah raja. Darah
bangsawan yang biasanya sangat suka adu jago tetapi gemar melakukan tapa
brata. Kesinilah Imam Kyai Besari mengarahkan. Disamping diberi pelajaran
mengaji seperti murid yang lain maka Bagus Burham juga disuruh melakukan
“tapa kungkum”. Dari sini terbukalah hati Bagus Burham. Dikeheningan
malam, dengen gemriciknya suara air, diatasnya bintang-bintang
berkelap-kelip seolah-oleh menyadarkan Bagus Burham yang usianya juga
sudah semakin dewasa itu.
Setelah menjalani tapa kungkum selama 40 hari lamanya maka Bagus Burham
tumbuh menjadi anak yang pandai. Kyai Imam Besari tersenyum lega melihat
perkembangan anak asuhnya yang paling bengal itu. Terapinya kena sekali.
Padahal terapi itu hanya berdasarkan dongenn yang pernah didengarnya.
Bahwa dahulu kala ada seorang pemuda yang bengal, nakal, penjudi, pemalas,
perampok yang bernama Ken Arok. Namun karena ketekunan seorang pendidik
yang bernama Loh Gawe maka akhirnya Ken Arok enjadi raja di Singosari.
Menurunkan raja-raja besar di tanah Jawa. Dari Mojopahit sampai ke
Surakarta semua menurut silsilah masih keturunan langsung dari Ken Arok.
Dan R. Patah pun keturunan Ken Arok. Jadi Bagus Burham juga keturunan Ken
Arok. Siapa tahu kenakalannya juga turunan yang dikelak kemudian hari akan
menjadi orang yang luar biasa. Bagus Burham menjadi murid yang terpandai.
Selama 4 tahun dipondok Tegalsari ilmu gurunya sudah terkuran habis. Tidak
ada sisanya lagi. Kyai Imam Besari memuji keluhuran Tuhannya. Dia
melimpahkan habis ilmunya kepada muridnya. Setelah dirasa cukup maka Bagus
Burham kembali ke Surakarta. Oleh tuanya Bagus Burham disuruh langsung ke
Demak untuk belajar mengenal sastra Arab dan kebatinan jawa pada Pangeran
Kadilangu.
Apakah ayahnya punya maksud agar kelak anaknya dapat menandingi kepandaian
rajanya ?
Bagus Burham seorang kutu buku yang luar biasa. Dengan bekal kepandaian
yang dimiliki dari beberapa guru-gurunya, Bagus Burham kemudian menekuni
soal kesusastraan Jawa serta peninggalan-peninggalan nenek moyang.
Buku-buku berbahasa kawi kuna ditelaah dan dipelajarai sebaik-baiknya.
Jiwa petualang masih juga membara dalam kalbunya. Dia seringkali
mengadakan perjalanan dari satu daerah kedaerah yang lain. Bagus Burham
meninjau tempat-tempat yang bersejarah, tempat-tempat yang mengandung
nilai-nilai historis, tempat-tempat yang keramat, ke candi-candi dan
tempat-tempat penting lainnya. Disembarang tempat dipelbagai daerah kalau
dianggap ada orang yang memiliki kepandaian lebih maka tidak malu-malu
Bagus Burham berguru para orang tersebut. Tidak peduli dia hanyalah
seorang juru kunci atau orang biasa. Pada usia 18 tahun sebagaimana
kebiasaan anak priyayi waktu itu ingin mengabdikan dirinya kepada keraton.
Caranya haruslah dengan magang (pegawai percobaan) pada Kadipaten Anom.
Jiwa senimannya atau darah kepujanggaannya terasa mengalir deras
ditubuhnya. TIdak merasa puas dengan pekerjaan magang tersebut. Maka Bagus
Burham mohon pamit sebab dirasa tidak ada kemajuan. Dia ingin mengembara
ingin bertualan menuruti gejolak darah senimannya. Hampir seluruh pelosok
pulau Jawa telah dijelajahi oleh Bagus Burham. Bahkan juga luar jawa
sepeti Bali, Lombok, Ujung Pandang, Banjarmasin bahkan ada sumber yang
mengatakan pengembaraan Bagus Burham sampai di India dan Srilanka. Melihat
perjalanan hidupnya seperti tersebut diatas pantaslah kalau Bagus Burham
menjadi manusia yang kritis menghadapi suatu persoalan. (Ungkapan
perasaannya tampak ada karyanya ” Serat Kala Tida “.
Pulang dari pengembarannya Bagus Burham kawin. Karena sang mertua diangkat
menjadi Bupati di Kediri maka Bagus Burhampun mengikuti ke Kediri.
Ditempat tersebut yang terkenal sebagai tempat bersejarah banyak
peninggalan-peninggalan dari jaman terdahulu. Di Kediri pernah berdiri
kerajaan besar dimana salah satu rajanya adalah Sang Prabu Joyoboyo. Waktu
sang prabu berkuasa agaknya keadaan negara sangat tenteram dan damai
terbukti lahirnya beberapa karya sastra besar. Sang Prabu memerintahkan
kepada Empu Sedah dan Empu Panuluh agar menceritakan kembali atau menyusun
ceritera BARATAYUDAHA dalam bahasa yang lebih muda diambil dari buku Maha
Barata asli dari India. Demikian indahnya gubahan tersebut sehingga banyak
yang mengira bahwa kejadian itu terjadi di tanah Jawa. Sebelum raja
Joyoboyo, di Kediri juga lahir hasil sastra yang tinggi mutunya. Smara
Dahana kitab karya Empu Darmaja, juga buku Sumana Sentaka karya Triguna
merupakan hasil sastra yang sulit dicari bandingannya. Di daerah yang
seperti itu tentu saja banyak peninggalan-peninggalan berupan
rontal-rontal yang dimiliki penduduk warisan dari nenek moyang. Dengan
tekun Bagus Burham di Kediri waktunya dihabiskan untuk mempelajari
rontal-rontal yang dapat dikumpulkan dari perbagai daerah. Dari
rontal-rontal, pengalaman/pengetahuan selama mengembara dan berguru itulah
dia dapat menimba pelbagai ilmu.
Baru setelah Bagus Burham berumur 38 tahun mulai produktif dengan karya
sastranya. Dan pada tahun 1844 pihak keraton mengangkat menjadi Kliwon
Carik dan disyahkan menjadi Pujangga Keraton. Namanya Raden Ngabehi
Ronggowarsito dan semakin tenar. Kariernya tidak licin sebab agaknya juga
dipengaruhi bahwa orang tuanya (Raden Tumenggung Sastronegoro) dianggap
bersalah kepada kompeni Belanda sebab pernah merencanakan akan menggempur
benteng Kompeni diwaku jaman pemberontakan Diponegoro (1825-1830).
Akhirnya R.T. Sastronegoro dibuang dan makamnya ada di Jakarta.

SERAT JOKO LODANG
Gambuh
1. Jaka Lodang gumandhul
Praptaning ngethengkrang sru muwus
Eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi
Gunung mendhak jurang mbrenjul
Ingusir praja prang kasor

Joko Lodang datang berayun-ayun diantara dahan-dahan pohon
kemudian duduk tanpa kesopanan dan berkata dengan keras.
Ingat-ingatlah sudah menjadi kehendak Tuhan
bahwa gunung-gunung yang tinggi itu akan merendah
sedangkan jurang yang curam akan tampil kepermukaan
(akan terjadi wolak waliking jaman), karena kalah perang maka akan diusir
dari negerinya.

2.Nanging awya kliru
Sumurupa kanda kang tinamtu
Nadyan mendak mendaking gunung wis pasti
Maksih katon tabetipun
Beda lawan jurang gesong

Namun jangan salah terima menguraikan kata-kata ini.
Sebab bagaimanapun juga meskipun merendah kalau gunung
akan tetap masih terlihat bekasnya.
Lain sekali dengan jurang yang curam.
3. Nadyan bisa mbarenjul
Tanpa tawing enggal jugrugipun
Kalakone karsaning Hyang wus pinasti
Yen ngidak sangkalanipun
Sirna tata estining wong

Jurang yang curam itu meskipun dapat melembung,
namun kalau tidak ada tanggulnya sangat rawan dan mudah longsor.
(Ket. Karena ini hasil sastra maka tentu saja multi dimensi.
Yang dimaksud dengan jurang dan gunung bukanlah pisik
tetapi hanyalah sebagai yang dilambangkan).
Semuanya yang dituturkan diatas sudah menjadi kehendak Tuhan
akan terjadi pada tahun Jawa 1850.
(Sirna=0, Tata=5, Esthi=8 dan Wong=1).
Tahun Masehi kurang lebih 1919-1920.

Sinom
1. Sasedyane tanpa dadya
Sacipta-cipta tan polih
Kang reraton-raton rantas
Mrih luhur asor pinanggih
Bebendu gung nekani
Kongas ing kanistanipun
Wong agung nis gungira
Sudireng wirang jrih lalis
Ingkang cilik tan tolih ring cilikira

Waktu itu seluruh kehendaki tidak ada yang terwujud,
apa yang dicita-citakan buyar, apa yang dirancang berantakan,
segalanya salah perhitungan, ingin menang malah kalah,
karena datangnya hukuman (kutukan) yang berat dari Tuhan.
Yang tampak hanyalah perbuatan-perbuatan tercela.
Orang besar kehilangan kebesarannya, lebih baik tercemar nama daripada
mati,
sedangkan yang kecil tidak mau mengerti akan keadaannya.

2. Wong alim-alim pulasan
Njaba putih njero kuning
Ngulama mangsah maksiat
Madat madon minum main
Kaji-kaji ambataning
Dulban kethu putih mamprung
Wadon nir wadorina
Prabaweng salaka rukmi
Kabeh-kabeh mung marono tingalira

Banyak orang yang tampaknya alim, tetapi hanyalah semu belaka.
Diluar tampak baik tetapi didalamnya tidak.
Banyak ulama berbuat maksiat.
Mengerjakan madat, madon minum dan berjudi.
Para haji melemparkan ikat kepala hajinya.
Orang wanita kehilangan kewanitaannya karena terkena pengaruh harta benda.
Semua saja waktu itu hanya harta bendalah yang menjadi tujuan.

3. Para sudagar ingargya
Jroning jaman keneng sarik
Marmane saisiningrat
Sangsarane saya mencit
Nir sad estining urip
Iku ta sengkalanipun
Pantoging nandang sudra
Yen wus tobat tanpa mosik
Sru nalangsa narima ngandel ing suksma

Hanya harta bendalah yang dihormati pada jaman tersebut.
Oleh karena itu seluruh isi dunia penderitaan kesengsaraannya makin
menjadi-jadi.
Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 (Nir=0, Sad=6, Esthining=8, Urip=1).
Tahun Masehi kurang lebih tahun 1930.
Penghabisan penderitaan bila semua sudah mulai bertobat dan menyerahkan
diri
kepada kekuasaan Tuhan seru sekalian alam.

Megatruh
1. Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu
Jaka Lodang nabda malih
Nanging ana marmanipun
Ing waca kang wus pinesthi
Estinen murih kelakon

Mendengar segalanya itu Mbok Perawan merasa sedih.
Kemudian Joko Lodang berkata lagi :
“Tetapi ketahuilah bahwa ada hukum sebab musabab,
didalam ramalan yang sudah ditentukan haruslah diusahakan supaya
segera dan dapat terjadi “.

2. Sangkalane maksih nunggal jamanipun
Neng sajroning madya akir
Wiku Sapta ngesthi Ratu
Adil parimarmeng dasih
Ing kono kersaning Manon

Jamannya masih sama pada akhir pertengahan jaman.
Tahun Jawa 1877 (Wiku=7, Sapta=7, Ngesthi=8, Ratu=1).
Bertepatan dengan tahun Masehi 1945.
Akan ada keadilan antara sesama manusia. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan.

3. Tinemune wong ngantuk anemu kethuk
Malenuk samargi-margi
Marmane bungah kang nemu
Marga jroning kethuk isi
Kencana sesotya abyor

Diwaktu itulah seolah-olah orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong
kecil)
yang berada banyak dijalan.
Yang mendapat gembira hatinya sebab didalam benda tersebut
isinya tidak lain emas dan kencana.

SERAT SABDO JATI
Megatruh
1. Hawya pegat ngudiya RONGing budyayu
MarGAne suka basuki
Dimen luWAR kang kinayun
Kalising panggawe SIsip
Ingkang TAberi prihatos

Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,
agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala
cita-cita,
terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar
prihatin.

2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh
Galedehan kang sayekti
Talitinen awya kleru
Larasen sajroning ati
Tumanggap dimen tumanggon

Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama,
intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati,
agar mudah menanggapi sesuatu.

3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu
Angayomi ing tyas wening
Eninging ati kang suwung
Nanging sejatining isi
Isine cipta sayektos

Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan,
mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini
kosong
namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.

4. Lakonana klawan sabaraning kalbu
Lamun obah niniwasi
Kasusupan setan gundhul
Ambebidung nggawa kendhi
Isine rupiah kethon

Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran.
Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan)
akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul,
yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak.

5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu
Dadi panggonaning iblis
Mlebu mring alam pakewuh
Ewuh mring pananing ati
Temah wuru kabesturon

Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan,
sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan
kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan
itikad hati yang baik,
seolah-olah mabuk kepayang.

6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu
Hayuning tyas sipat kuping
Kinepung panggawe rusuh
Lali pasihaning Gusti
Ginuntingan dening Hyang Manon

Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan
yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya,
sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek.
Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.

7. Parandene kabeh kang samya andulu
Ulap kalilipen wedhi
Akeh ingkang padha sujut
Kinira yen Jabaranil
Kautus dening Hyang Manon

Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir,
tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga
yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan.

8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh
Kewuhan sajroning ati
Yen tiniru ora urus
Uripe kaesi-esi
Yen niruwa dadi asor

Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran
melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan
tercela akhirnya menjadi sengsara.

9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung
Anggelar sakalir-kalir
Kalamun temen tinemu
Kabegjane anekani
Kamurahane Hyang Manon

Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan
langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan
kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.

10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun
Yen temen-temen sayekti
Dewa aparing pitulung
Nora kurang sandhang bukti
Saciptanira kelakon

Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan
setulus hati.
Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi
segala cita-cita dan kehendaknya tercapai.

11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur
Saka pengunahing Widi
Ambuka warananipun
Aling-aling kang ngalingi
Angilang satemah katon

Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung
yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui.

12. Para jalma sajroning jaman pakewuh
Sudranira andadi
Rahurune saya ndarung
Keh tyas mirong murang margi
Kasekten wus nora katon

Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan,
cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela,
makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan
diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.

13. Katuwane winawas dahat matrenyuh
Kenyaming sasmita sayekti
Sanityasa tyas malatkunt
Kongas welase kepati
Sulaking jaman prihatos

Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan
tersebut,
senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut.

14. Waluyane benjang lamun ana wiku
Memuji ngesthi sawiji
Sabuk tebu lir majenum
Galibedan tudang tuding
Anacahken sakehing wong

Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877
(Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi
1945).
Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila,
hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang.

15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu
Kala Suba kang gumanti
Wong cilik bisa gumuyu
Nora kurang sandhang bukti
Sedyane kabeh kelakon

Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba.
Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan
makan
seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.

16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput
Mulur lir benang tinarik
Nanging kaseranging ngumur
Andungkap kasidan jati
Mulih mring jatining enggon

Sayang sekali “pengelihatan” Sang Pujangga belum sampai selesai,
bagaikan menarik benang dari ikatannya.
Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir
datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.

17.Amung kurang wolung ari kang kadulu
Tamating pati patitis
Wus katon neng lokil makpul
Angumpul ing madya ari
Amerengi Sri Budha Pon

Yang terlihat hanya kurang 8 hai lagi, sudah sampai waktunya,
kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon.

18. Tanggal kaping lima antarane luhur
Selaning tahun Jimakir
Taluhu marjayeng janggur
Sengara winduning pati
Netepi ngumpul sak enggon

Tanggal 5 bulan Sela
(Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu,
Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873)
kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan
sang Pujangga kembali menghadap Tuhan.

19. Cinitra ri budha kaping wolulikur
Sawal ing tahun Jimakir
Candraning warsa pinetung
Sembah mekswa pejangga ji
Ki Pujangga pamit layoti

Karya ini ditulis dihari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jimakir 1802.
(Sembah=2, Muswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi
1873).
SERAT KALATIDA
Sinom
1. Mangkya darajating praja
Kawuryan wus sunyaturi
Rurah pangrehing ukara
Karana tanpa palupi
Atilar silastuti
Sujana sarjana kelu
Kalulun kala tida
Tidhem tandhaning dumadi
Ardayengrat dene karoban rubeda

Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot.
Situasi (keadaan tata negara) telah rusah, karena sudah tak ada yang dapat
diikuti lagi.
Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama.
Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh
keragu-raguan).
Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan kerepotan.

2. Ratune ratu utama
Patihe patih linuwih
Pra nayaka tyas raharja
Panekare becik-becik
Paranedene tan dadi
Paliyasing Kala Bendu
Mandar mangkin andadra
Rubeda angrebedi
Beda-beda ardaning wong saknegara

Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik,
Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka
masyarakat baik,
namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan.
Oleh karena daya jaman Kala Bendu.
Bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi.
Lain orang lain pikiran dan maksudnya.

3.Katetangi tangisira
Sira sang paramengkawi
Kawileting tyas duhkita
Katamen ing ren wirangi
Dening upaya sandi
Sumaruna angrawung
Mangimur manuhara
Met pamrih melik pakolih
Temah suka ing karsa tanpa wiweka

Waktu itulah perasaan sang Pujangga menangis, penuh kesedihan,
mendapatkan hinaan dan malu, akibat dari perbuatan seseorang.
Tampaknya orang tersebut memberi harapan menghibur
sehingga sang Pujangga karena gembira hatinya dan tidak waspada.

4.Dasar karoban pawarta
Bebaratun ujar lamis
Pinudya dadya pangarsa
Wekasan malah kawuri
Yan pinikir sayekti
Mundhak apa aneng ngayun
Andhedher kaluputan
Siniraman banyu lali
Lamun tuwuh dadi kekembanging beka

Persoalannya hanyalah karena kabar angin yang tiada menentu.
Akan ditempatkan sebagai pemuka tetapi akhirnya sama sekali tidak benar,
bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali.
Sebenarnya kalah direnungkan, apa sih gunanya menjadi pemuka/pemimpin ?
Hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja.
Lebih-lebih bila ketambahan lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah
kerepotan.

5. Ujaring panitisastra
Awewarah asung peling
Ing jaman keneng musibat
Wong ambeg jatmika kontit
Mengkono yen niteni
Pedah apa amituhu
Pawarta lolawara
Mundhuk angreranta ati
Angurbaya angiket cariteng kuna

Menurut buku Panitisastra (ahli sastra), sebenarnya sudah ada peringatan.
Didalam jaman yang penuh kerepotan dan kebatilan ini, orang yang berbudi
tidak terpakai.
Demikianlah jika kita meneliti. Apakah gunanya meyakini kabar angin
akibatnya hanya akan menyusahkan hati saja. Lebih baik membuat karya-karya
kisah jaman dahulu kala.

6. Keni kinarta darsana
Panglimbang ala lan becik
Sayekti akeh kewala
Lelakon kang dadi tamsil
Masalahing ngaurip
Wahaninira tinemu
Temahan anarima
Mupus pepesthening takdir
Puluh-Puluh anglakoni kaelokan

Membuat kisah lama ini dapat dipakai kaca benggala,
guna membandingkan perbuatan yang salah dan yang betul.
Sebenarnya banyak sekali contoh -contoh dalam kisah-kisah lama,
mengenai kehidupan yang dapat mendinginkan hati, akhirnya “nrima”
dan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan.
Yah segalanya itu karena sedang mengalami kejadian yang aneh-aneh.

7. Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Milu edan nora tahan
Yen tan milu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah karsa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada

Hidup didalam jaman edan, memang repot.
Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya
jaman
tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan.
Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang
lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa
ingat dan waspada.

8. Semono iku bebasan
Padu-padune kepengin
Enggih mekoten man Doblang
Bener ingkang angarani
Nanging sajroning batin
Sejatine nyamut-nyamut
Wis tuwa arep apa
Muhung mahas ing asepi
Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma

Yah segalanya itu sebenarnya dikarenakan keinginan hati. Betul bukan ?
Memang benar kalau ada yang mengatakan demikian.
Namun sebenarnya didalam hati repot juga. Sekarang sudah tua,
apa pula yang dicari. Lebih baik menyepi diri agar mendapat ampunan dari
Tuhan.

9.Beda lan kang wus santosa
Kinarilah ing Hyang Widhi
Satiba malanganeya
Tan susah ngupaya kasil
Saking mangunah prapti
Pangeran paring pitulung
Marga samaning titah
Rupa sabarang pakolih
Parandene maksih taberi ikhtiyar

Lain lagi bagi yang sudah kuat. Mendapat rakhmat Tuhan.
Bagaimanapun nasibnya selalu baik.
Tidak perlu bersusah payah tiba-tiba mendapat anugerah.
Namun demikian masih juga berikhtiar.

10. Sakadare linakonan
Mung tumindak mara ati
Angger tan dadi prakara
Karana riwayat muni
Ikhtiyar iku yekti
Pamilihing reh rahayu
Sinambi budidaya
Kanthi awas lawan eling
Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma

Apapun dilaksanakan. Hanya membuat kesenangan pokoknya tidak menimbulkan
persoalan.
Agaknya ini sesuai dengan petuah yang mengatakan bahwa manusia itu wajib
ikhtiar,
hanya harus memilih jalan yang baik.
Bersamaan dengan usaha tersebut juga harus awas dan
waspada agar mendapat rakhmat Tuhan.

11. Ya Allah ya Rasulullah
Kang sipat murah lan asih
Mugi-mugi aparinga
Pitulung ingkang martani
Ing alam awal akhir
Dumununging gesang ulun
Mangkya sampun awredha
Ing wekasan kadi pundi
Mula mugi wontena pitulung Tuwan

Ya Allah ya Rasulullah, yang bersifat murah dan asih,
mudah-mudahan memberi pertolongan kepada hambamu disaat-saat menjelang
akhir ini.
Sekarang kami telah tua, akhirnya nanti bagaimana.
Hanya Tuhanlah yang mampu menolong kami.

12. Sageda sabar santosa
Mati sajroning ngaurip
Kalis ing reh aruraha
Murka angkara sumingkir
Tarlen meleng malat sih
Sanityaseng tyas mematuh
Badharing sapudhendha
Antuk mayar sawetawis
BoRONG angGA saWARga meSI marTAya

Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa,
seolah-olah dapat mati didalam hidup.
Lepas dari kerepotan serta jauh dari keangakara murkaan.
Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada MU agar mendapat ampunan
sekedarnya.
Kemudian kami serahkan jiwa dan raga dan kami.

SABDA TAMA
Gambuh
1. Rasaning tyas kayungyun
Angayomi lukitaning kalbu
Gambir wanakalawan hening ing ati
Kabekta kudu pitutur
Sumingkiring reh tyas mirong

Tumbuhlah suatu keinginan melahirkan perasaan dengan hati yang hening
disebabkan ingin memberikan petuah-petuah agar dapat menyingkirkan hal-hal
yang salah.

2. Den samya amituhu
Ing sajroning Jaman Kala Bendu
Yogya samyanyenyuda hardaning ati
Kang anuntun mring pakewuh
Uwohing panggawe awon

Diharap semuanya maklum bahwa dijaman Kala Bendu
sebaiknya mengurangi nafsu pribadi yang akan membenturkan kepada
kerepotan.
Hasilnya hanyalah perbuatan yang buruk.

3.Ngajapa tyas rahayu
Nyayomana sasameng tumuwuh
Wahanane ngendhakke angkara klindhih
Ngendhangken pakarti dudu
Dinulu luwar tibeng doh

Sebaiknya senantiasa berbuat menuju kepada hal-hal yang baik.
Dapat memberi perlindungan kepada siapapun juga.
Perbuatan demikian akan melenyapkan angkara murka,
melenyapkan perbuatan yang bukan-bukan dan terbuang jauh.

4. Beda kang ngaji mumpung
Nir waspada rubedane tutut
Kakinthilan manggon anggung atut wuri
Tyas riwut ruwet dahuru
Korup sinerung agoroh

Hal ini memang lain dengan yang ngaji pumpung.
Hilang kewaspadaannya dan kerepotanlah yang selalu dijumpai,
selalu mengikuti hidupnya. Hati senantiasa ruwet karena selalu berdusta.

5. Ilang budayanipun
Tanpa bayu weyane ngalumpuk
Sakciptane wardaya ambebayani
Ubayane nora payu
Kari ketaman pakewoh

Lenyap kebudayaannya. Tidak memiliki kekuatan dan ceroboh.
Apa yang dipikir hanyalah hal-hal yang berbahaya.
Sumpah dan janji hanyalah dibibir belaka tidak seorangpun mempercayainya.
Akhirnya hanyalah kerepotan saja.

6. Rong asta wus katekuk
Kari ura-ura kang pakantuk
Dandanggula lagu palaran sayekti
Ngleluri para leluhur
Abot ing sih swami karo

Sudah tidak berdaya. Hanya tinggallah berdendang.
Mendendangkan lagu dandang gula palaran hasil karya nenek moyang dahulu
kala,
betapa beratnya hidup ini seperti orang dimadu saja.

7. Galak gangsuling tembung
Ki Pujangga panggupitanipun
Rangu-rangu pamanguning reh harjanti
Tinanggap prana tumambuh
Katenta nawung prihatos

Ki Pujangga didalam membuat karyanya mungkin ada kelebihan dan
kekurangannya.
Olah karena itu ada perasaan ragu-ragu dan khawatir,
barangkali terdapat kesalahan/kekeliruan tafsir, sebab sedang prihatin.

8. Wartine para jamhur
Pamawasing warsita datan wus
Wahanane apan owah angowahi
Yeku sansaya pakewuh
Ewuh aya kang linakon

Menurut pendapat para ahli, wawasan mereka keadaan selalu berubah-ubah.
Meningkatkan kerepotan apa pula yang hendak dijalankan.

9. Sidining Kala Bendu
Saya ndadra hardaning tyas limut
Nora kena sinirep limpating budi
Lamun durung mangsanipun
Malah sumuke angradon

Azabnya jaman Kala Bendu, makin menjadi-jadi nafsu angkara murka.
Tidak mungkin dikalahkan oleh budi yang baik.
Bila belum sampai saatnya akibatnya bahkan makin luar biasa.

10. Ing antara sapangu
Pangungaking kahanan wus mirud
Morat-marit panguripaning sesami
Sirna katentremanipun
Wong udrasa sak anggon-anggon

Sementara itu keadaan sudah semakin tidak karu-karuwan,
penghidupan semakin morat-marit, tidak ketenteraman lagi, kesedihan
disana-sini.

11. Kemang isarat lebur
Bubar tanpa daya kabarubuh
Paribasan tidhem tandhaning dumadi
Begjane ula dahulu
Cangkem silite angaplok

Segala dosa dan cara hancur lebur, seolah-olah hati dikuasai ketakutan.
Yang beruntung adalah ular berkepala dua, sebab kepala serta buntutnya
dapat makan.

12. Ndhungkari gunung-gunung
Kang geneng-geneng padha jinugrug
Parandene tan ana kang nanggulangi
Wedi kalamun sinembur
Upase lir wedang umob

Gunung-gunung digempur, yang besar-besar dihancurkan
meskipun demikian tidak ada yang berani melawan.
Sebab mereka takut kalau disembur (disemprot ular) berbisa.
Bisa racun ular itu bagaikan air panas.

13. Kalonganing kaluwung
Prabanira kuning abang biru
Sumurupa iku mung soroting warih
Wewarahe para Rasul
Dudu jatining Hyang Manon

Tetapi harap diketahui bahwa lengkungan pelangi yang
berwarna kuning merah dan biru sebenarnya hanyalah cahaya pantulan air.
Menurut ajaran Nabi itu bukanlah Tuhan yang sebenarnya.

14. Supaya pada emut
Amawasa benjang jroning tahun
Windu kuning kono ana wewe putih
Gegamane tebu wulung
Arsa angrebaseng wedhon

Agar diingat-ingat. Kelak bila sudah menginjak tahun windu kuning
(Kencana) akan ada wewe putih (setan putih), yang bersenjatakan tebu hitam
akan menghancurkan wedhon (pocongan setan).
(Sebuah ramalan yang perlu dipecahkan).

15. Rasa wes karasuk
Kesuk lawan kala mangsanipun
Kawises kawasanira Hyang Widhi
Cahyaning wahyu tumelung
Tulus tan kena tinegor

Agaknya sudah sampai waktunya, karena kekuasaan Tuhan telah datang jaman
kebaikan, tidak mungkin dihindari lagi.

16, Karkating tyas katuju
Jibar-jibur adus banyu wayu
Yuwanane turun-temurun tan enting
Liyan praja samyu sayuk
Keringan saenggon-enggon

Kehendak hati pada waktu tersebut hanya didasarkan kepada ketentraman
sampai ke anak cucu. Negara-negara lain rukun sentosa dan dihormati
dimanapun.

17. Tatune kabeh tuntun
Lelarane waluya sadarum
Tyas prihatin ginantun suka mrepeki
Wong ngantuk anemu kethuk
Isine dinar sabokor

Segala luka-luka (penderitaan) sudah hilang.
Perasaan prihatin berobah menjadi gembira ria.
Orang yang sedang mengantuk menemukan kethuk (gong kecil)
yang berisi emas kencana sebesar bokor.

18. Amung padha tinumpuk
Nora ana rusuh colong jupuk
Raja kaya cinancangan angeng nyawi
Tan ana nganggo tinunggu
Parandene tan cinolong

Semua itu hanya ditumpuk saja, tidak ada yang berbuat curang maupun yang
mengambil. Hewan piraan diikat diluar tanpa ditunggu namun tidak ada yang
dicuri.

19. Diraning durta katut
Anglakoni ing panggawe runtut
Tyase katrem kayoman hayuning budi
Budyarja marjayeng limut
Amawas pangesthi awon

Yang tadinya berbuat angkara sekarang ikut pula berbuat yang baik-baik.
Perasaannya terbawa oleh kebaikan budi. Yang baik dapat menghancurkan yang
jelek.

20. Ninggal pakarti dudu
Pradapaning parentah ginugu
Mring pakaryan saregep tetep nastiti
Ngisor dhuwur tyase jumbuh
Tan ana wahon winahon

Banyak yang meninggalkan perbuatan-perbuatan yang kurang baik. Mengikuti
peraturan-peraturan pemerintah. Semuanya rajin mengerjakan tugasnya
masing-masing. Yang dibawah maupun yang diatas hatinya sama saja. Tidak
ada yang saling mencela.

21.Ngratani sapraja agung
Keh sarjana sujana ing kewuh
Nora kewran mring caraka agal alit
Pulih duk jaman runuhun
Tyase teteg teguh tanggon

Keadaan seperti itu terjadi diseluruh negeri. Banyak sekali orang-orang
ahli dalam bidang surat menyurat. Kembali seperti dijaman dahulu kala.
Semuanya berhati baja.

RAMALAN JOYOBOYO

Badan Penerbit Kwa Giok Djing, Kudus,
Sapta Pujangga dan Sejarah Indonesia, hal. 55-68

Rawa dadi pada dadi bera
Iblis jalma manungsa
Iblis menjelis
manungsa sara
Wong salah bungah-bungah
Wong bener thenger-thenger.
Miturut ramalan saka Prabu Noto Aji Joyoboyo, yen wiwit Tanah Jawa diisi
manungsa kaping pindone sahingga besuk tekane Kiamat Kubra (gantining
Jaman), arep ngalami 2100 Taun Surya utawa 2163 taun candra, kang kabagi
dadi telung periode jaman gedhe utawa diwastani TRIKALI.

Periode Jaman gedhe mau siji-sijine kabagi meneh dadi Pitung Jaman Cilik
utawa kang kasebut SAPTA MALOKO.
Trikali kabagi dadi telu yaiku :
1. Kalisura (Jaman Alam Kaluhuran) suwene 700 Taun Surya.
2. Kalijaga (Jaman Panguripan) suwene 700 Taun Surya.
3. Kalisengoro (Jaman Ngalam Tirta) suwene 700 Taun Surya
.Ing kene sing arep dibahas namung Kalisengoro, sawijineng Trikali kang
pungkasan.

Kalisengoro kabagi dadi Sapta Maloko, yaiku :
1. Kalajangga (Jaman Kembang Gadung)
2. Kalasekti (Jaman Kuasa)
3. Kalajaya (Jaman Hunggul)
4. Kalabendu (Jaman sengsara lan Angkaramurka)
5. Kalisuba (Jaman Kamulyan)
6. Kalisumbaga (Jaman Kasohor)
7. Kalisurata (Jaman Alus)

Disawang kepenak, jebule ora kepenak

February 13, 2008 by wahyutri

Dadi wong urip, jebulane sawang sinawang yah.
Malah kadang kedadian sing wolak walikEsih enom, kesehatan dekorbanaken dinggo golek duwit …
(kakehan pegawaian kelalen mangan, sing paling ringan lara
maag lan ginjel mergane kurang nginum ..)
Wis tuwa, kesugihane dekorbanaken denggo kesehatan …
(mbuh priwe carane, ngendi nggone lan pira mbayare
delakoni sing penting mari..)

Karena banda, kanca dianggep sedulur .. (kanca bisnis lah)
Karena bandha, sedulur dianggep wong liya .. (ora
profitable jarene..!!)

Wong sugih kuat tuku springbed empuk tur larang, tapi ora
bisa turu ….
(lha wong … stress mikir bisnise ..)
Wong mlarat ra kuat tuku springbed empuk, tapi turune
angler malah ngorok ..!! (mungkin kekeselen)

Wong sugih nduwe duwit denggo foya-foya, tapi ora nana
wektu
Wong mlarat nduwe wektu denggo foya-foya, tapi ora duwe
duit

Esih enom nduwe cita-cita urip sugih ben bisa nikmati
sugihe
Wis dadi sugih ora nana wektu nggo nikmati sugihe …
.. ehhh pas nduwe wektu eee umure wis tuwa, dadinei ya ra
nduwe tenaga, wong wis loyo si..

Depikir-pikir, wong urip pancen sing penting kudu
mensyukuri apa bae sing wis dadi nasib lan kersaning Gusti
Allah

nuwun
ali.s

Portable Application

February 12, 2008 by wahyutri

Jika kita memiliki laptop bisa kita install program sekehendak hati, sepertinya nggak terlalu sudah untuk melakukan segala aktifitas karena semua aplikasi yang kita perlukan sudah terinstall di laptop kita. Tapi bagaimana jika misalkan kita di warnet atau di komputer orang, dan ingin menjalankan program aplikasi yang sering kita gunakan akan tetapi karena keterbatasan dari software di komputer tersebut terkadang kita harus install dahulu atau lebih parah lagi kita harus download dulu di internet kemudian baru di install. Ribet juga yah?

Ada beberapa aplikasi portable yang kita bisa pasang di flashdik atau removable device lainnya. Salah satu yang aku gunakan disini adalah portable application yang disediakan oleh portableapps.com . Terus terang dengan menggunakan aplikasi yang tersedia yang kemudian aku download dan aku install di flasdisk-ku banyak sekali membantu.

Pada saat saya perlu menjalankan program-program office yang mana di komputer yang sedang digunakan tidak tersedia, saya bisa menggunakan OpenOffice, jika ingin ber-YM ria saya bisa menggunakan Gaim, jika ingin berbrowsing ria bisa menggunakan Mozilla Firefox, jika ingin check email saya bisa menggunakan Mozilla Thunderbird (ini banyak sekali membantu).

Di portableapps juga banyak tersedia aplikasi-aplikasi lainnya yang relatif mudah di dapat karena free alias gratis. Pokoknya top deh ..

Keutamaan Subuh

February 12, 2008 by wahyutri

Oleh : Muhammad Jihad Akbar

Shalat Subuh merupakan satu di antara shalat wajib lima waktu yang mempunyai kekhususan dari shalat lainnya dan mempunyai keutamaan yang luar biasa. Pada saat inilah pergantian malam dan siang dimulai. Pada saat ini pula malaikat malam dan siang berganti tugas (HR Al-Bukhari).

Karenanya, beruntunglah mereka yang dapat melaksanakan shalat Subuh pada awal waktu sebab disaksikan oleh malaikat, baik malaikat yang bertugas pada malam hari maupun siang. Allah SWT berfirman: ”Dan dirikanlah shalat Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh para malaikat).” (QS Al-Isra’ [17]: 78).

Selain itu, shalat Subuh juga bisa menjadi penerang pada hari ketika semua orang berada dalam kekalutan (kiamat). Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, ”Berilah kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan di kegelapan menuju masjid (untuk mengerjakan shalat Subuh) dengan cahaya yang terang benderang (pertolongan) pada hari kiamat.” (HR Abu Daud, Tirmidzi dan Ibn Majah).

Tak hanya itu, Allah pun telah menyiapkan pahala yang luar biasa bagi mereka yang membiasakan shalat Subuh tepat pada waktunya, yaitu mendapatkan pahala sebanding dengan melakukan shalat semalam suntuk. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis, ”Barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, maka seakan-akan dia telah melaksanakan shalat semalam suntuk.” (HR Bukhari).

Di antara hikmah dan alasannya adalah karena shalat Subuh merupakan shalat wajib yang paling ‘’sulit” dikerjakan pada awal waktu. Banyak di antara kita lebih memilih untuk tidur di atas kasur empuk dan selimut yang hangat. Padahal, seruan Allah (adzan) pada waktu Subuh telah memberitahukan kita bahwa shalat itu lebih baik daripada tidur.

Secara ilmiah, benar adanya bahwa bangun pagi dan melakukan shalat lebih baik daripada terus tidur. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Louis J Ignarro dan Ferid Murad, pembuluh darah manusia akan mengembang pada tengah malam terakhir sampai menjelang siang. Kemudian secara berangsur-angsur sekumpulan sel darah akan menggumpal pada dinding pembuluh sehingga terjadi penyempitan. Inilah yang mengakibatkan tekanan darah tinggi.

Menurut peraih Nobel bidang Fisiologi dan Kedokteran tahun 1998 ini, ada cara alamiah yang bisa dilakukan oleh setiap orang, yaitu menggerakkan tubuh sejak pagi buta. Karena, penelitian mereka menunjukkan bahwa dengan menggerak-gerakkan tubuh, gumpalan sel tadi akan melebur bersama aliran darah yang terpompa dengan kencang pada saat bergerak.

Maka, beruntunglah mereka yang terbiasa menggerakkan tubuh pada waktu Subuh dengan bangun tidur lalu berwudhu kemudian berjalan menuju masjid guna shalat Subuh berjamaah.

Sehat Ala Rasulullah

February 12, 2008 by wahyutri

“Rasulullah bersabda: “Mu’min yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mu’min yang lemah.” (HR Muslim) Bagaimana agar senantiasa sehat seperti Rasulullah? Ikuti resep berikut ini: “
Rasulullah bersabda:”Mu’min yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mu’min yang lemah.” (HR Muslim)Bagaimana agar senantiasa sehat seperti Rasulullah? Ikuti resep berikut ini:

Selalu Bangun Sebelum Subuh

Rasul selalu mengajak ummatnya untuk bangun sebelum subuh, melaksanakan shalat sunah dan shalat fardhu, shalat subuh berjamaah. Hal ini memberi hikmah yang mendalam antara lain:Berlimpah pahala dari Allah.Kesegaran udara subuh yang bagus untuk kesehatan/ terapi penyakit TubercolusisMemperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan.Aktif Menjaga KebersihanRasul selalu senantiasa rapi dan bersih, tiap hari kamis atau jumat beliau mencuci rambut-rambut halus di pipi, selalu memotong kuku, bersisir dan berminyak wangi.”Madi pada hari jumat adalah wajib bagi setiap Muslim yang telah dewasa (baligh). Demikian pula menggosok gigi dan memakai wangi-wangian.” (HR Muslim)

Tidak Pernah Banyak Makan

Sabda Rasul:”Kami adalah sebuah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak (tidak sampai kekenyangan).” (Muttafaq Alaih)Dalam tubuh manusia ada tiga ruang untuk 3 benda: Sepertiga untuk udara, sepertiga untuk air dan sepertiga lainnya untuk makanan. Bahkan ada satu tarbiyyah khusus bagi ummat Islam dengan adanya puasa Ramadhan untuk menyeimbangkan kesehatan.

Gemar Berjalan Kaki

Rasul selalu berjalan kaki ke Masjid, pasar, medan jihad, mengunjungi rumah sahabat, dan sebagainnya.Dengan berjalan kaki, keringat akan mengalir, pori-pori terbuka dan peredaran darah akan berjalan lancar. Ini penting untuk mencegah penyakit jantung.

Tidak Pemarah

Nasehat Rasulullah: “Jangan Marah” diulang sampai tiga kali. Ini menunjukan hakikat kesehatan dan kekuatan Muslim bukanlah terletak pada jasadiyah belaka, tetapi lebih jauh yaitu dilandasi oleh kebersihan dan kesehatan jiwa.Ada terapi yang tepat untuk menahan amarah:Mengubah posisi ketika marah, bila berdiri maka duduk, dan bila duduk maka berbaring.Membaca Ta’awwudz, karena marah itu datangnya dari syaitan.Segeralah Berwudhu.Shalat dua Rakaat untuk meraih ketenangan dan menghilangkan kegundahan hati.

Optimis Dan Tidak Putus Asa

Sikap optimis akan memberikan dampak psikologis yang mendalam bagi kelapangan jiwa sehingga tetap sabar, istiqamah dan bekerja keras, serta tawakal kepada Allah Swt.Tak

Pernah Iri Hati

Untuk menjaga stabilitas hati dan kesehatan jiwa, mentalitas maka jauhi iri hati merupakan tindakan preventif yang sangat tepat.

Sumber: Buletin Jumat Masjid AT- Taqwa, Bandung

Belajar Memaafkan

February 6, 2008 by wahyutri

Cuplikan berikut dari DR. Chapman. Kali ini yang dibicarakan adalah hal yang sering membuat kita frustasi,”Kenapa sih dia masih marah, tapi saya khan sudah minta maaf?” Ternyata mohon maaf pun ada bahasa yang berlaku berbeda bagi masing - masing pribadi. Simak ulasan berikut dan rasakan perbedaannya setelah anda praktekkan. Selamat menikmati…

Learning to Apologize Effectively

Have you ever noticed that what one person considers to be an apology, is not what another person considers to be an apology? What is an apology?
( Apakah anda pernah memperhatikan bahwa cara orang untuk menerima permohonan maaf berbeda satu sama lain ? Apa sih sebenarnya Permohonan Maaf itu ? )

It’s different things to different people. After three years of research, Dr. Jennifer Thomas and I have concluded that there are five basic elements to an apology. We call them the five languages of apology. Each person has a primary apology language, and one of the five speaks more deeply to them emotionally than the other four. If you don’t speak their language, they may consider your apology insincere.
( Masing - masing orang memiliki penerimaan yang berbeda satu sama lain. Setelah riset selama tiga tahun, Dr. Jenifer Thomas dan saya menyimpulkan bahwa terdapat 5 Dasar Permintaan Maaf. Kami menyebutnya sebagai Lima Bahasa Permohonan Maaf. Setiap orang memiliki bahas permohonan maaf yang utama, dan satu dari lima tersebut berdampak lebih dalam secara emosi dari empat yang lain. Jadi jika anda tidak bicara dengan bahasa mereka, mereka akan menganggap permohonan maaf anda kurang tulus )

A Question of Sincerity
( Pertanyaan tentang ketululusan )
Ever had someone apologize to you and you questioned their sincerity? Ever ask yourself why? It’s probably because they did not speak your apology language. They said, “I’m sorry.” But what you wanted to hear was, “I was wrong.” They said, “Will you forgive me?” But what you wanted to hear was, “What can I do to make this right?”
( Pernahkah ada seseorang yang meminta maaf pada anda dan anda mempertanyakan ketulusannya ? Pernah merefleksikan diri tentang hal itu ? Kemungkinannya adalah mereka tidak berbicara bahasa permohonan maaf anda. Mereka bilang,”Saya minta maaf.” Tetapi apa yang ingin anda dengan adalah,” Saya salah.” Mereka bilang,”Apakah saya dimaafkan ?” Tetapi yang ingin anda dengar adalah,” Apa yang harus saya lakukan untuk memperbaikinya ?” )

Many of our apologies come across as insincere because we are not speaking the apology language of the offended person. If couples can learn each other’s primary apology language and speak it when they offend each other, forgiveness will be much easier.
( Banyak dari permintaan maaf kita dianggap kurang tulus karena kita tidak bicara bahasa permohonan maaf dari orang yang kita tuju. Jika pasangan bisa mengetahui bahasa permohonan maaf utama masing - masing dan menggunakkanya pada saat yang diperlukan, pasti akan lebih mudah untuk memaafkan. )

The Five Languages of Apology
( Lima Bahasa Permohonan Maaf )
Do you know the five languages of apology?
# 1 - Expressing Regret – “I’m sorry.” “I feel badly about what I did.”
# 2 - Accepting Responsibility – “I was wrong.” “It was my fault.”
# 3 - Making Restitution – “What can I do to make it right?”
# 4 - Genuinely Repenting – “I’ll try not to do that again.”
# 5 - Requesting Forgiveness – “Will you please forgive me?”
( Apakah anda tahu 5 bahasa Permohonan Maaf?
# 1 - Ekspresi Penyesalan - ” Saya mohon maaf.”"Saya merasa apa yang saya lakukan tidak baik”
# 2 - Menerima Tanggung Jawab - ” Saya bersalah.”"Itu salah saya.”
# 3 - Membuat Penggantian - ” Apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaikinya?”
# 4 - Menyatakan Kekhilafan - “Saya tidak akan melakukannya lagi.”
# 5 - Memohon Maaf - “Maukah memaafkan saya?” )

Speaking the Right One
( Bicara dengan Bahasa yang Tepat )
When you apologize, you are trying to make things right. So you say, “I’m sorry. I was wrong. I know I hurt you and I feel badly about it. Will you forgive me?” But your spouse says, “How could you do that if you loved me? How can I forgive you when you never do anything to ‘make it right’?” You feel frustrated and don’t know what to do next. The problem is not your sincerity, the problem is that you are not speaking the right apology language.
(Ketika anda memohon maaf, anda berusaha untuk membuat semuanya menjadi baik lagi. Lalu anda mengatakan,”Saya mohon maaf. Saya salah. Saya telah menyakiti kamu dan saya merasa buruk sekali. Maukah kamu memaafkan saya?” Tetapi pasangan anda berkata,”Kenapa kamu bisa begitu jika kamu mencintai saya? Bagaimana saya bisa memaafkan kamu kalau kamu tidak melakukan apapun untuk memperbaikinya?” Anda merasa frustasi dan tidak tahu lagi apa yang seharusnya dilakukan. Masalahnya bukan ketulusan anda, melainkan anda tidak bicara dengan bahasa yang tepat. )

Which Do You Want to Hear?
( Mana yang ingin anda dengar? )
Which one of the five languages of apology do you want to hear? That is your primary apology language.
( Manakah yang ingin anda dengar dari ke Lima Bahasa Permohonan Maaf itu? Itulah bahasa permohonan maaf anda yang utama )

Apologize effectively by learning your spouse’s apology language and speaking it when you know you have offended each other. Ask your spouse, “When I apologize, what do you want to hear from me?” You may be surprised at their answer, but it will give you their primary apology language. Learning to speak each other’s apology language will lead you to a growing marriage.
( Memohon maaf secara efektif dengan mempelajari bahasa permohonan maaf pasangan anda dan bicara dengan bahasa tersebut pada saat diperlukan. Tanyakan pada pasangan anda, “Apa yang ingin mereka dengan ketika saya mohon maaf?” Anda mungkin saja terkejut dengan jawabannya, tetapi itu akan memberikan anda Bahasa Permohonan Maaf yang utama. Belajar bicara Bahasa mereka akan membawa anda ke Pernikahan yang terus bertumbuh. )