Putri ketiga Kami

By wahyutri

Pagi itu Hari Rabu, tanggal 20 – 02 – 2008, nggak seperti biasanya aku dibangunkan pukul 3.00 dini hari. Yah.. bangun yah, sudah mulai mules, “Kata Istriku tercinta. Aku segera bangun, dan memperhatikan istriku yang saat itu terlihat sedang mules perutnya. “Sudah berama lama sekali mulesnya?”, tanyaku. “Masih lama sih, 1 jam sekali”, kata Istriku. “Masih lama berarti, “Kataku.

Si kecil, Regita Bilqis, yang kebetulan badannya juga sedang panas tiba-tiba terbangun dan menangis. “Ngopol yah ..”, Kata Regita sambil menangis. Nggak papa Sayang, sini celananya dibuka yah, “Kataku. Setelah cebok dan ganti celana, si Kecil yang kebetulan suhu bandannya cukup panas minta di gendong. Yuk, kita ke ruang tamu saja, nanti kalo kita ngobrol disini si sulung, Nabila Tasya, malah terbangun juga “ajakku ke istriku. Sambil menggendong si kecil, Regita, aku keluar ke ruang tamu. Ayah.. barnie, “Rengek Regita mita disetelkan CD barnie yang baru aku beli sore tadi. “Iyah, tapi ade sembuh yah”, Kataku sembil menyalakan komputer, karena sudah sebulan DVD player kami rusak dan belum sempat diperbaiki, sehingga setiap nyetel CD atau DVD menggunakan komputer.

Regita nonton Barnie sambil tiduran, kepalanya aku elus2 dengan penuh kasih sayang. Perlahan-lahan Regita mulai tertidur kembali. “Sudah berama lama sekali?”, tanyaku ke istriku. Sudah sekitar 45 menit sekali mulesnya. Pagi itu sekitar pukul 5.00 pagi mulai terdengar azan shubuh. Aku segera mengambil air wudhlu dan berpamitan ke istriku. “nda, aku ke masjid dulu yah. Tolong jagain De Gita! “Pintaku. Iya Yah, “sahut istriku.

Sepulangku dari mesjid aku lihat Regita masih tidur, segera aku matikan komputerku. Aku mendapat informasi dari istriku kalau mertuaku akan datang. Mungkin mereka ngerti, bahwa nanti ketika saat lahiran di rumah perlu ada yang nungguin anak-anak kami yang masih kecil-kecil.

Hari itu juga aku memutuskan untuk tidak berangkat kerja. Segera kukirim sms ke temanku untuk disampaikan ke atasanku bahwa hari itu aku nggak bisa masuk kerja karena istri mau melahirkan.

Sekitar jam 9 pagi mertuaku dateng bersama adik iparku. Sekitar jam 12 siang saat mules istriku sudah lebih sering, 5 menit sekali, aku putuskan untuk datang ke bidan terdekat yang kebetulan ada di rumah. Setelah diperiksa ternyata baru pembukaan dua. “Masih lama bu, coba nanti kesini lagi sore sekitar jam 5, “kata bidan yang memeriksa Istriku. Setelah pemeriksaan selesai, aku ajak istriku pulang ke rumah. Di Rumah sudah mulai ramai, karena kebetulan kakak iparku juga datang (kebetulan kami tetanggaan).

Sekitar jam 5 sore, aku bawa lagi istriku ke bidan. Mulesnya sudah lebih cepat periodenya, namun belum ada tanda-tanda ketuban pecah. Akhirnya bidan memutuskan untuk memberi perangsang melalui suntikan. Betul juga, sekitar pukul 17.10 istriku sudah mulai berasa, akhirnya istriku segera di rebahkan di tempat persalinan. Bidan mengizinkanku untuk menemani proses kelahiran anakku yang ketiga.

Pembantu bidan, yang membantu proses kelahiran, juga sudah datang. Benar-benar, kali ini untuk yang kedua kalinya aku menyaksikan proses kelahiran anakku (anakku yang kedua tidak sempat tertunggui). Aku menyaksikan pengorbanan seorang wanita ketika melahirkan seorang anak adam dari rahim-nya. Perjuangannya, Subhanallah, luar biasa. Istriku memegang erat tanganku ketika melahirkan anakku yang ketiga. Tanpa sadar aku ikut “ngeden” :) .

Sekitar pukul 17.17, lahirlah anakku yang ketiga secara normal. Alhamdulillah semuanya selamat dan sehat. Aku elus2 kepala istriku sambil tersenyum, dan diapun tersenyum. Aku cium kening istriku yang terlihat letih sekali. “Yang, Anak kita sudah tiga” , kataku sambil tersenyum. “Iyah” , Jawabnya sambil tersenyum manis.

Setelah bayi dibersihkan segera aku gendong, kemudian aku lafazkan azan di telinga kanannya dan qomat telinga kirinya. Aku periksa satu-satu, alhamdulillah semuanya baik-baik. Alhamdulillah Ya Allah…!! Semoga kami diberi kekuatan untuk mebesarkan, mendidik dan memenuhi kewajiban kami sebagai orang tua. Amin.

Tags: ,

Leave a Reply